Pesona Kota Lama Semarang

Unik dan eksotis. Mungkin dua kata itu tidak cukup menggambarkan betapa indahnya bangunan-bangunan tempo dulu di Kota Lama Semarang. Sisa kejayaan Belanda saat menduduki Indonesia masih jelas terlihat. Sentuhan klasik menarik hati untuk menyusuri setiap sudut kota tua, mendengar tembok-tembok bersaksi atas apa yang dulu terjadi.

Memasuki jalan di pinggir Kota Lama, mata ini disambut oleh sebuah bangunan putih memanjang yang bertuliskan Pabrik Rokok Praoe Lajar. Saya teringat dahulu, di warung-warung desa, saya sering melihat rokok bertuliskan Praoe Lajar. Rokok yang berbungkus kertas putih bergambar perahu layar. Entah saat ini masih melayarkah rokok tersebut  di warung-warung desa sekitar saya. Namun, dengan adanya bangunan pabrik rokok tersebut yang masih kokoh berdiri, rasanya terjawab, asap rokok cap tersebut masih mengepul di tanah Jawa.

Begitu memarkir kendaraan, saya langsung takjub dengan bangunan-bangunan di kota lama ini. Setiap bangunan seperti sudah ditata dengan baik. Beberapa bangunan lama sudah direnovasi, dijadikan kafe, resto, maupun tempat menjual oleh-oleh. Namun, ada juga bangunan yang dibiarkan kosong dan apa adanya.

Seperti sebuah bangunan tua berdinding bata merah dibiarkan apa adanya. Beberapa jendela kayu yang menempel di dinding terlihat usang, semakin rapat karena lama tak terbuka. Akar sebuah pohon yang cukup besar menyatu dengan dinding rumah, menambah misterius ada sejarah apa di balik temboknya. Di sebuah pojok dindingnya hanya menempel papan kayu usang bertuliskan sama dengan bangunan sebelumnya, Pabrik Praoe Lajar.

Tidak jauh dari situ, terdapat sebuah gereja yang menjadi salah satu ikon kota Semarang. Orang menyebutnya gereja blendug (:mblendug), mungkin oleh sebab kubahnya yang membentuk setengah bulatan. Jelas tertulis nama asli gereja tersebut, GPIB Immanuel, sebuah gereja Kristen tertua di Jawa Tengah. Menurut info, gereja ini dibangun oleh Belanda di abad 18. Gereja ini mengingatkan saya pada gereja berkubah biru di Santorini, Yunani yang pernah saya lihat di internet.

Di samping gereja blendug terdapat Taman Srigunting. Sebuah taman kecil yang tertata apik. Di dalam taman terdapat beberapa angkutan yang telah dihias, seperti ontel dan becak bertenaga manusia atau jinrikisha khas Jepang. Anda bisa langsung berpose di atas jinrikisha dengan dipandu oleh penyedianya. Oh ya, untuk berpose dengan properti yang disediakan tersebut kita harus membayar. Tidak mahal sih, sukarela saja. Namun, hampir semua penyedia jasa properti foto menyediakan kotak untuk dana. Saya berpikir, mungkin dana tersebut digunakan untuk biaya perawatan atau menjadi pengganti waktu dan lelahnya tenaga penyedianya.

Di sekitar Taman Srigunting terdapat beberapa lapak yang menyajikan dan menjual barang-barang kuno. Jika ingin mencari uang kuno Indonesia dengan nominal sen atau puluhan, Anda bisa cari di sini. Tapi jangan heran dengan harganya yang mahal. Wajar, sebab harga sepadan dengan sejarahnya. Untuk selembar uang kertas bisa terkena harga Rp300 ribuan. Uang kertas dan koin tersebut rapi disimpan dalam sebuah plastik. Meski menurut saya di Pasar Beringharjo, Yogyakarta lebih lengkap.

Tak hanya itu, kebanyakan pernak-pernik atau hiasan rumah yang ditawarkan berbahan tembaga dan seng enamel. Deretan porselen cina yang cantik dan manis turut memberi nuansa klasik. Tidak ketinggalan, koleksi-koleksi surat berbahasa Belanda, majalah-majalah dan novel era 80-an pun berjajar melengkapi lapak yang berjejer di gang kecil itu. Saya tak ketinggalan membeli novel Adakah Jalan Lain? karangan Jenny Mercelina Laloan, atau La Rose.

Di seberang Taman Srigunting, sebuah bangunan tua masih gagah berdiri. Bangunan memanjang tersebut bergaya timur tengah bercampur eropa. Dindingnya yang berdominasi putih dan merah bata itu dibiarkan rompak di beberapa bagian. Marba, begitu kata yang tertulis di atas pintu utama gedung tersebut. Marba, menurut cerita merupakan singkatan dari pemilik dan pendiri gedung. Marta Bajunet, begitu namanya, seorang konglomerat dari Yaman.

IMG_20180725_122537

Pesona Gedung MARBA

Senja sore saat itu yang begitu cantik menambah suka, mengiri langkah berjalan-jalan di atas kota lama. Sejarah memang tidak bisa diulang, tetapi masih bisa terlihat jejaknya. Suasana nyaman membuat enggan menghentikan langkah di kota tua ini. Saya akan balik lagi, ke Kota Lama ini, membaca kisah dari peristiwa yang pernah terjadi.

Iklan

Menanti Maret

“Bulan Maret masih lama ya?” ucap Mas beberapa hari lalu. Ya, kami memang sedang menanti-nanti bulan Maret. Akan ada hal baru di bulan itu.

Akhir Januari lalu, Mas memutuskan untuk datang ke rumah dan berbicara kepada kedua orangtuaku akan kemantapan hatinya ingin meminangku. Bermodalkan kesungguhan, keberanian, dan juga ridho keluarganya, Mas datang. Kedatangan dan niat baiknya disambut baik oleh kedua orangtuaku.

Dunia seakan berhenti berputar. Tidak ada kebisingan. Yang aku dengar kala itu hanya Mas yang dengan santunnya berbicara pada Bapak dan Ibu, pun juga Bapak yang dengan bijak menanggapi kata-kata yang disampaikan Mas. Sedang aku, dadaku sesak. Rasa ingin menangis tercekat di tenggorokan. Bahagia bercampur haru menjadi satu.

Dugaanku keliru. Semula yang kupikir Bapak akan menunda keinginan kami ini ternyata menyambut baik. Terlebih karena Mas telah mengatakan bahwa kedatangannya saat ini juga telah diridhoi oleh kedua orangtua dan keluarganya. “Aku ridho. Aku terima kasih banget sampean ndhuwe rasa welas karo Dina.” Begitu ucapan Bapak yang masih saja aku ingat di suatu sore lepas magrib kala itu.

Ibu lebih banyak terdiam mendengarkan. Sesekali Ibu mengatakan untuk berpikir ulang lantaran aku belum lulus kuliah. Tapi Bapak lain. Bapak lebih melihat hal ini dari sisi agama. Menurut pengetahuaannya, ada 4 hal dalam Islam yang harus disegerakan, yaitu menyegerakan solat saat azan telah berkumandang, segera menguburkan orang yang telah mati, segera melunasi utang, dan segera menikahkan anak saat tiba waktunya.

Ada perasaan beda setelah saat itu. Lega. Bagaikan seorang perindu yang bertemu kekasihnya. Bagaikan bumi yang tersirami hujan setelah musim panas yang lama.

Jika ada sesuatu hal di dunia ini yang tak bisa diungkapkan, itu hanyalah kebahagiaan dan kesedihan. Dan inilah awal kebahagiaan kami berdua setelah 9 tahun menjalani kisah kasih. Mendapat restu dari orang tua kami untuk melangkahkan kaki ke tangga hidup selanjutnya.

Kata ‘sayang’ lebih sering muncul dari Mas. Kata ‘rindu’ pun sudah tak dapat terhitung dari mulutku. Orang tuaku pun lebih perhatian pada Mas. Waktu akan cepat menggiring kita kepada kebahagiaan. Dan, menikmatinya adalah sebuah keindahan. Maret, we waiting for you.

Secuil Kisah di Tempat Wisata

Sabtu, 10 Agustus 2013

Bulan ramadhan sudah dijalani. Lebaran juga sudah dilewati. Lalu sekarang apa lagi? Berwisata.

 

Jakarta memang sepi saat libur lebaran karena ditinggal mudik sebagian penduduknya. Tapi ruas-ruas jalan menuju tempat wisata tetap saja padat merayap. Tahun ini, Mbak Win, keponakan ibu, berkunjung ke rumah bersama dengan dua anaknya. Sudah hampir tujuh tahun gak ketemu, Ivan sudah kelas VII tapi badannya tetap kecil, tidak tinggi. Sedangkan adiknya, Nadia, yang baru kali ini aku lihat, sudah berusia 4 tahun. Badannya lebih besar daripada Ivan sewaktu kecil.

Lebaran ketiga, saya, ibu, dan adik bungsu mengantarkan Mbak Win dan anak-anaknya ke kebun Binatang Ragunan. Daripada diam sendiri di rumah, mending saya ikut mereka aja. Jalan macet dari Kampung Kandang, jadi saya parkir kendaraan di depan rumah makan bergaya joglo, kurang lebih 200 meter sebelum pintu barat Ragunan.

Sampai di Ragunan, lagi-lagi antrian loket masuk penuh sesak. Saya harus mengantri hampir 30 menit untuk dapat giliran membeli tiket masuk. Ada saja orang yang menyela di sela-sela antrian berharap untuk bisa cepat dapat tiket masuk. Kenapa sih gag bisa sabar menunggu giliran, toh tiket masuk tidak akan habis. Masih banyak tersedia. Ini dia gambaran ketidakdisiplinan yang pertama. Menunggu memang tidak menyenangkan, tapi kalau ada hal-hal yang memang harus ditunggu, seperti mengantri membeli tiket, ya sabarlah menunggu.

Harga tiket yang terjangkau membuat Bonbin Ragunan selalu ramai dikunjungi.

Harga tiket yang terjangkau membuat Bonbin Ragunan selalu ramai dikunjungi.

Agar tidak  bosan, lakukan hal lain yang bisa membunuh waktu menunggu.  Bisa baca koran/buku, dengar musik atau membuka medsos lewat hape, dan atau mengobrol dengan keluarga atau pengunjung lain. “Ibu/Bapak/Mbak dari mana? Jam berapa datang ke sini? Ramai2 sama keluarga?” dll. Kalau saya sih milih yang pertama, tapi karena tidak ada bacaan, jadi pilihan jatuh ke yang kedua. Yang ketiga kemungkinannya kecil, mengingat di Jakarta orang-orang lebih bersifat individualis. Foto-foto sekitar saya, dan gag nyangka ternyata udah tiba giliran saya membayar tiket.

Bonbin Ragunan memang setiap libur lebaran selalu ramai. Pasti itu. Kebetulan rumah saya hanya 10 menit saja dari sana, jadi tau deh intensitas pengunjung bonbin. Jadi gag heran jika saat masuk bonbin, wuaaahh ramai, padat!

Ketidakdisiplinan saat mengantri kereta keliling.

Ketidakdisiplinan saat mengantri kereta keliling.

Di mana-mana antri! Mau naik gajah antri sampai jalan pinggir loket. Mau naik kereta keliling juga harus antri dan rela berebutan saat kereta datang. Ini hal kedua dalam potret ketidakdisiplinan kita. Semua yang pegang tiket kereta pasti akan jatuh giliran menaikinya. Jadi untuk apa berebutan? Belum lagi keruwetan karena para calon penumpang menunggu kereta di pinggir jalan dengan berdesak-desakan. Berdesak-desakan juga akan membawa kerugian. Dompet atau barang berharga bisa saja jatuh karena bergesekan dengan yang lain, sikut-sikutan bisa saja terjadi, yang paling parah bisa jatuh dan terinjak atau tertabrak kereta!

Coba sabar sedikit dan berdisiplin! Tidak adanya pengawasan dari petugas kereta menjadi penyebab berebutan tempat duduk di kereta. Coba dibuat pagar-pagar  berbaris. Calon penumpang sesuai dengan waktu kedatangan berderet rapi di pagar tersebut. Sehingga saat kereta datang, satu persatu penumpang terangkut dan rapi. Hal ini meminimalkan terjadinya kerugian seperti di atas. Penumpang terkendali, aman, dan nyaman! Seperti yang terjadi di antrian perahu bebek. Di sana calon penumpang berjejer rapi di tengah pagar pembatas untuk mendapatkan giliran menaiki perahu bebek.

Satu jam di bonbin, kami memutuskan untuk melepas lelah. Waktu makan siang tiba, kebetulan sudah pukul 12.00. Kami kemudian menggelar tikar plastik yang telah kami beli di depan bonbin seharga Rp 5.000,-. Ibu mengeluarkan bekal yang kami bawa. Kebetulan tadi pagi ayah memasakkan Soto Jawa. Selain itu sambal goreng kentang, manisan kolang-kaling, beberapa buah jeruk, dan tak lupa air minum. Selesai makan, kami meneruskan jalan-jalan.

Tiga jam setelah berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Sementara menunggu Ibu dan Mbak Win memilih-milih boneka untuk anak-anaknya, saya memilih duduk manis, melihat dan mengamati sekitar. Ternyata, tidak jauh dari tempat saya duduk adalah tong sampah yang sudah full oleh sampah, sampai-sampai sampahnya membludak ke luar. Di sisi kanan saya ternyata juga banyak bertebaran sampah-sampah plastik maupun kertas bekas makanan. Sungguh disayangkan, pengunjung di sini belum sepenuhnya sadar akan kedisiplinan dalam membuang sampah pada tempatnya. Potret ketiga tentang ketidakdisiplinan.

Tumpukan sampah !

Tumpukan sampah !

Sampah di mana-mana.

Sampah di mana-mana.

Seharusnya pengelola bonbin lebih banyak lagi dalam menyediakan tempat sampah. Saya melihat masih sangat jarang tempat sampah, lagi pula jika ada jaraknya terlampau jauh dan tempatnya terlalu kecil. Bayangkan ada 1000 orang yang datang dengan masing-masing menghasilkan sampah satu buah. Tidak mungkin tempat sampah yang kecil memadai untuk menampung sampah pengunjung yang banyak.

Huffth akhirnya … selesai sudah berwisatanya. Tapi malah baru sadar kalau saya berceritanya malah tentang kedisiplinan gini yaa… tapi apa lagi selain itu. Pasti lah kalau ke bonbin ya ngeliat binatang. Tapi gak semuanya sih. Cuma lihat zebra, gajah, komodo, gorilla, buaya, ular, dan unggas pun gag semua. Jadi gak begitu banyak untuk diceritakan. Lebih menarik sisi lainnya aja 😀

Salam–.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

Sebentuk Keunggulan, Sekeping Keharmonisan di Tengah Seribu Pura

Sebagai tujuan wisata utama di Indonesia, Bali memang tidak pernah mati. Geliat kehidupannya selalu berdenyut setiap waktu. Pesonanya tidak hanya terpancar dari kota-kotanya saja, bahkan sampai pelosok Pulau Dewata ini pun, mampu menjadi magnet yang menarik pelancong dari seluruh dunia.

Awalnya penulis tidak percaya. Bagaimana bisa Bali menyulap hampir setiap sudutnya menjadi daerah tujuan wisata. Munduk, salah satu desa di Kabupaten Buleleng contohnya. Rumah-rumah tua bergaya kolonial yang hampir runtuh disulap menjadi penginapan-penginapan. Penulis menyaksikan penginapan-penginapan itu dibangun sangat hoomy.  Pengunjung yang menginap akan merasa bagai berada di rumah sendiri. Kenyamanan inilah yang membuat betah para wisatawan menikmati keindahan alamnya. Kelas penginapannya pun beragam mulai untuk singgah kelas backpacker hingga wisatawan berkelas.

Kontur tanah yang berbukit-bukit tidak menjadi penghalang bagi pemerintah setempat untuk membangun wisata. Air terjun di dalam bukit-bukit di tengah desa pun dijadikan tujuan objek wisata. Butuh waktu selama satu jam untuk mencapai air terjun Melanting, salah satu air terjun di desa tersebut, dengan melewati jalan setapak yang cukup terjal. Perjalanan menuju ke sana akan cukup menguras tenaga.

Tapi jangan khawatir, rerimbunan pohon-pohon beraneka ragam akan menemani kita sepanjang jalan. Sebut saja pohon cengkeh, kakao, salak, lada, hingga vanilla pun bisa kita temui di hutan kecil ini. Munduk, seolah memanjakan wisatawannya, terutama wisatawan asing yang memang khusus berlibur untuk menemukan kembali keharmonisan alam yang jarang mereka temukan di sela-sela kesibukan di negaranya.

Saat berkunjung ke Pura Beji, Buleleng, penulis terkesima oleh seorang pemandu wisata lokal yang mengaku menguasai lima bahasa Eropa, yaitu Inggris, Spanyol, Belanda, Prancis, dan Rusia. Bagaimana ia belajar kelima bahasa itu tidak penting. Justru yang terpenting adalah bagaimana Bali berusaha memberdayakan masyarakatnya untuk bisa melayani wisatawan asing melalui bahasa ibu mereka.

Di Pasar Candikuning, Bedugul, penulis makin percaya bahwa Bali memang istimewa. Bagaimana tidak, sampai penjual oleh-oleh di sana pun bisa berbagai bahasa asing meskipun hanya menuturkan harga-harga barang dagangannya. Dan penulis yakin, mereka tidak belajar di kelas formal, apalagi mengambil waktu kursus dengan sengaja untuk mempelajari bahasa asing tersebut di kelas nonformal.

Setidaknya realita yang ditemui di atas mampu menggambarkan keunggulan masyarakat Bali dalam memanfaatkan alam yang mereka miliki. Kesadaran pada keindahan dan kecintaannya pada alam menjadikan masyarakat  pulau seribu pura ini menggunakan seluruh akal budinya untuk melayani wisatawan dunia yang  ingin berkenalan alam dan tradisinya.

Keharmonisan di atas air

Siang itu penulis masih berada di Bedugul. Dengan  ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, daerah ini sudah tentu menawarkan kesejukan. Kabut terkadang turun hingga gerimis sesekali menitik. Saran penulis, sediakan payung dan terutama baju hangat jika Anda berkunjung ke sini.

Siang belum jauh terlewat. Namun semilir anginnya telah merebak bulu-bulu di kulit. Beruntung kabut belum jauh turun. Di atas, dia seakan mengancam untuk memberikan kesejukan lebih yang akan  merasuk hingga tulang.

Ada pemandangan yang berbeda di daerah ini. Di tepi jalan, berdiri sebuah masjid besar, Masjid Al Hidayah Bedugul. Di tengah-tengah Pulau yang 90% masyarakatnya menganut agama Hindu, daerah Bedugul ini mayoritas dihuni oleh para muslim. Maka tak heran, saat berada di Pasar Candikuning, penulis melihat penjual wanitanya yang sebagian besar berkerudung.

Keberadaan masjid di tengah-tengah Bedugul, tak lantas menghapus keberadaan pura sebagai tempat ibadah agama mayoritas. Tak jauh dari situ, berdirilah satu komplek Pura Ulun Danu Bratan yang menawan. Sebagai salah satu pura suci di Pulau Bali, penulis pastikan Anda tidak asing dengan pura yang satu ini. Ya, pura ini begitu dekat dengan kita karena tergambar jelas di selembar uang Rp 50.000,00.

Namun sebenarnya, bukan itu alasan yang menjadi daya tarik untuk berkunjung ke pura ini. Letaknya di tepian Danau Bratan membuat Pura Ulun Danu tampak serasi dengan alam. Apalagi jika kabut tidak menggantung di atas danau, kita bisa menyaksikan pohon-pohon yang rapat nan hijau melatari pura.

Memasuki pura ini, kita akan disambut oleh bunga-bunga terompet berwarna-warni dan beberapa cemara di atas taman yang berumput hijau nan segar. Di dekat pintu masuk juga terdapat sebuah bangunan stupa yang di dalamnya terdapat patung Budha.

Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di Danau Bratan, Bedugul, Bali. Menjelang sore pura ini sering ditutupi kabut.

Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di Danau Bratan, Bedugul, Bali. Menjelang sore pura ini sering ditutupi kabut.

Lepas dari taman, mata akan segera menatap takjub pada kokohnya Pura Ulun Danu Bratan. Sejarah mengatakan bahwa pura berarsitektur Hindu-Budha ini dibangun tahun 1633 M. Namun, sebagai salah satu pura tertua, tidak menjadikan bangunan ini tampak seusianya. Warna kuning dan oranye yang mendominasi bangunan masih tampak jelas terlihat. Meru yang bertingkat 11 masih kokoh berdiri.

Memandang wajah pura yang berada di atas danau ini memunculkan rasa tenang dalam pikiran. Udara yang sejuk menambah rasa teduh dan nyaman. Air danau sesekali beriak kecil terkena semilir angin. Kabut yang perlahan turun tidak mengurangi keindahan. Seakan Tuhan hadir di sini, mengharmoniskan alam ciptaannya.

 

 

 

 

 

Ceker Ranjau Bu Umi

Jumat sore, 17 Mei 2013

Melanjutkan rencana di warung mie ayam Rabu lalu, saya dan kawan-kawan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Ceker Ranjau Babarsari sore ini. Janjian pukul 5 sore bertemu di TKP. Lokasinya sangat strategis. Tepat di sebelah utara traffic light dari arah barat, persisnya di depan butik Bunga Kampus, timur Ayam Goreng Suharti, Babarsari.

Kabarnya tempat itu selalu laris manis dikunjungi pembeli, terutama pecinta masakan pedas. Memang, sebagian besar  menunya berakhiran kata ‘pedas’. Sesampainya di sana kami langsung memesan makanan. Pilihan makanannya terbilang banyak, mulai dari ceker, kepala ayam, paha ayam, sayap, ati, telur, tempe, dan tahu. Semuanya tersedia dalam sajian pedas maupun goreng. Ada juga nasi endog (sambal) ijo, dan (sambal) merah. Masalah harga, jangan khawatir. Harga mahasiswa!   Seporsi ranjau dan ceker dihargai Rp 5.000,- isinya 4 buah.

Sedangkan untuk menu minumannya tidak banyak pilihan. Hanya teh, jeruk, kopi, dan nutrisari yang tersedia dingin dan hangat.

Tidak menunggu waktu lama untuk menikmati pesanan  kami. Yani, Julia, dan Zia memesan ceker pedas. Sedangkan aku ranjau pedas. Untuk minumannya, kami semua pesan es teh yang paling segar.

Dari penampilannya sangat menggoda lidah. Kami tidak sabar untuk mencoba. Ranjau pedas lebih seperti tengkleng ayam, karena isinya lebih banyak tulang. Ya, meskipun ada dagingnya sedikit. Kuahnya yang pedas dan gurih dipenuhi bumbu cabai. Oh ya, aku jadi ingat rica-rica ayam buatan ibu. Seperti itulah masakan di warung makan ini, seperti rica-rica. Tapi gak kalah maknyus dari buatan ibu. He he he…

Makan terus sampai tetes kuah terakhir. Sampai bibir jontor, hidung berair. Gak kuasa menahan pedasnya.

Tempat ini bisa jadi referensi buat teman-teman yang mungkin mau mentraktir kawan-kawannya. Jangan lupa ajak saya juga. Suasananya membuat kita santai dan nyaman. Tersedia untuk makan lesehan atau meja. Warung Ceker Ranjau juga ada di selatan GOR UNY. Tertarik? Harus coba.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tambah Kurang Kehidupan Sama Dengan Doa

Lebih dari 20 tahun silam, ibu melawan sakit, mengerahkan segenap tenaganya untuk melahirkanku. Begitu dekat dengan kegagalan, kematian. Namun Tuhan masih sayang padanya, diberikannya kehidupan baginya untuk menghidupiku dengan segenap kasih sayangnya. Diberikan pula tenaga yang lebih untuk mendidikku, kesabaran yang melimpah untuk mengajarkanku, dan kesetiaan yang tiada goyah dalam mendampingi ayah.

Di usiaku yang bertambah ini, makin berpikir aku pada apa yang telah aku berikan kepada mereka, orang tua yang membesarkan dan mendidikku. Juga pada kedua adikku. Sepertinya belum satu hal pun aku berikan.

Di usiaku yang bertambah ini, makin aku sadari keimanan dan ketakwaan masih jauh jaraknya. Sepertinya butuh keyakinan bahwa mulai hari ini harus bisa menggapai kedua itu, untuk menggandengnya agar Tuhan selalu dekat denganku.

Di usiaku yang bertambah ini, makin aku bertanya-tanya tentang kebaikan apa yang telah aku berikan pada kawan-kawan, dan dia yang menyayangiku. Sepertinya masih kotor hati dan pikiran ini untuk bertingkah laku baik, dan mengasihi sesama mereka.

Di usiaku yang makin banyak kini, justru makin berkurang kehidupan yang akan aku jalani. Manusia tidak pernah tahu kapan akan kembali. Sedangkan masih banyak hal yang harus digapai, diberi, dan dipelajari.

Di usia ini, aku lebih membutuhkan banyak doa baik dari orang tua maupun kawan dan para sahabat. Udah dewasa, gak perlu lagi minta ini-itu untuk hadiah, kado. dan, doa dari Ayah lah terluncur barisan doa itu:

‘Selamat ultah, sabar, tawakal,ikhtiar,doa, kelak hidupmu mulia.MULYO MINULYO*’

Sebuah doa yang baik pula dari orang terdekat:

‘Selamat ulang tahun, semoga berkah, amanah dan selalu dirahmati Allah sepanjang jalanmu….’

Semoga malaikat mengijabah doa yang tercurah dari kawan-kawan, orang tua, adik-adik, sehingga Allah SWT pun dapat mengabulkannya. Amiiinn….lilin-ultah

Akhirnya,  itu lah kebahagiaan yang semestinya dirasakan pada saat ulang tahunmu: doa tulus dari orang-orang terdekatmu! Karena doa berarti harapan, kebaikan, ungkapan kasih sayang dari orang disekitarmu.

Doa dari kawan-kawan pun ada metamorfosanya. Sekarang-sekarang ini, semakin dewasa usia, gak sedikit yang menambahkan doa ‘cepet nikah’ di bagian belakang doanya. Ini kalimat doa atau imperatif ya. he he he … 😛

Happy anniversary for my self. Be mature, and more patient!!

*mulyo minulyo (Jw.), berarti memiliki kedudukan yang tinggi, disegani, unggul, baik dalam segala hal, luhur budi

Enjoy Jakarta (Episode Pertama)

Sudah hampir setahun gak ketemu sama Ning dan Wiwik. Kebetulan bulan ini saya pulang ke Jakarta. Ning yang bekerja di Sukabumi datang ke rumah dan menginap semalam. Esok paginya, Sabtu, 9 Februari, kami ke Monas. Janjian dengan Wiwik yang sekarang tinggal di Bekasi.

Jakarta panas. Tapi tetep semangat buat kami jalan-jalan. Hunting foto-foto juga yang pasti.

tujuan pertama: Monas.Sudah lama juga gag ke Monas. Sampai gag ingat kapan terakhir ke sana. Monas (Monumen Nasional) dibangun atas prakarsa Sukarno, Presiden RI pertama dan bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang. Tujuan tersebut tampak pada lidah api yang dilapisi emas, di sisi paling atas Tugu Monas.

Banyak masyarakat yang datang berkunjung, mandiri maupun rombongan. Banyak juga saat itu rombongan-rombongan anak sekolah. Tiket masuk yang sangat murah (IDR 5000) menjadi salah satu daya tarik tersendiri di samping naik sampai bagian atas untuk melihat panorama kota Jakarta. Tapi kami cuma sampai cawan saja karena untuk naik ke bagian paling atas, antrinya minta ampun.

Setelah mengelilingi cawan, kami turun dan foto-foto di dinding-dinding berelief. Relief-relief ini menceritakan tentang sejarah Indonesia mulai dari kejayaan Kerajaan Singasari dan Majapahit, pergerakan nasional, Sumpah Pemuda, Kemerdekaan dan Indonesia modern. Ning suka banget berpose di samping relief Gajah Mada yang besar.

Selanjutnya setelah puas berpose di samping relief-relief, kami keluar. Kami memutuskan untuk makan siang dulu sebelum selanjutnya ke Masjid Istiqlal untuk solat. Saya dan Ning memesan soto ayam, dan Wiwik seperti biasanya: mie ayam. Kaget saat mau bayar makan. Harganya mahal. Tapi gak apalah karena lumayan mengobati rasa lapar dan mencoba memaklumi karena ini khan daerah wisata. Buat yang gag mau jajan hendaknya makan dulu sebelum berwisata,lebih bagus kalo bawa makan dari rumah dan dimakan sekeluarga di taman Monas.Buat yang simpel kaya kami ini, jajan jadi alternatif dengan konsekuensi harga makanan yang ‘nuthuk’ konsumen.

To be continued …..

nb: nuthuk (bhs. Jawa)= memeras konsumen.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.