Pendidikan Karakter

Lama sekali tidak posting di blog ini. Kali ini saya akan memposting hasil karya saya. Tulisan ini sebelumnya sudah saya sampaikan di dalam kelas Seminar. Selain itu juga telah dikonsultasikan kepada dosen pengampu Seminar. Sekilas tentang tulisan ini, yaitu mengenai pendidikan karakter yang terdapat pada cerpen-cerpen dalam buku Bahasa Indonesia pegangan Siswa. Buku Bahasa Indonesia yang dipakai yaitu yang berdasarkan Kurikulum 2013. Meski belum sempurna penerapannya, bahkan saat ini telah kembali diganti KTSP, namun perlu dikaji apakah muatan buku K13 telah sesuai dengan tujuannya, yakni membentuk karakter pembelajar yang sesuai dengan Pancasila. Untuk lebih lengkapnya silakan unduh filenya. Semoga bermanfaat bagi pembaca Yang terpenting adalah tumbuhkan karakter kejujuran dalam tulis-menulis. Salam.

Sentilan Politik dalam Genre Sastra yang Apik

 

“Suara hati Ki Jaga Baya semakin yakin, seakan mantab menata masa depan dan semakin yakin bahwa yang dilakukan bukan demi kepentingannya sendiri tetapi demi kepentingan kerajaan, demi kepentingan masa depan rakyat di negeri Antah Berantah.”

 

Itulah sepenggal teks dari cerita pendek yang berjudul Tahta. Cerpen ini adalah satu dari karya Pranowo, kini guru besar Universitas Sanata Dharma (USD), yang termuat dalam antologi cerpen Tahta dan Sang Hyang Kucing terbitan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pendapa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Tahta  memuat cerita Ki Jaga Baya, bawahan Ki Demang Jaga Menir, yang berpendapat bahwa penguasa negeri Antah Berantah sudah sepatutnya digantikan. Pergantian tersebut didasari oleh fakta bahwa Sang Penguasa sudah tidak mampu menjadi penyalur aspirasi rakyat. Telah banyak pula generasi baru yang lebih mumpuni untuk menggantikan kepemimpinannya.

Cerpen lain yang juga berkisah tentang seorang penguasa adalah Sang Hyang Kucing, karya Wahyana Giri, seorang pegiat teater Yogyakarta. Giri mengisahkan Sang Majikan Waru Doyong, sebuah kebun binatang “mapan”, yang kini tengah dililit nafsu. Sang Majikan diketahui telah melakukan penyelewengan konsumsi satwa di kebun binatang itu. Ia juga yang menyunat jatah daging untuk makan para penghuni Waru Doyong. Demonstrasi tidak dapat dibendung. Maka sesuai dengan saran Sang Hyang Kucing, pemimpin keamanan Waru Doyong kepercayaan sang Majikan, diberlakukanlah Normalisasi Kehidupan Kucing. Dengan demikian para kucing-kucing tidak lagi mengeong tentang segala tuntutannya.

Penuturan kisah dalam cerpen-cerpen tersebut cukup menjadi bukti bahwa cerita ini merupakan bentuk sentilan terhadap pemerintahan pada zamannya. Keduanya ditulis pengarang di tahun yang sama, tahun 1988, di mana saat itu stabilitas politik negara ini memang sedang dalam ketidakpastian. Di tahun kepemimpinan Soeharto yang ke-20 itu, regenerasi kepemimpinan mulai dipertanyakan. Kemudian untuk membekukan aktivis di era itu, diberlakukanlah Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Sesaat NKK cukup ampuh untuk mengamankan Sang Penguasa dari tahtanya.

Kisah dalam cerpen Tahta dan Sang Hyang Kucing hanyalah dua contoh cerita yang coba dituturkan pengarang lewat imajinasinya. Tentunya, imajinasi logis tentang sebuah kondisi sosial, ekonomi, bahkan juga politik yang nyata terjadi. Inilah yang tampaknya ingin dimunculkan oleh LPM Pendapa dalam buku kumpulan cerpennya. “Tidak ada tema khusus dalam buku ini. Hanya saja cerpen yang dimuat mewakili kondisi bangsa sebelum reformasi, saat reformasi, dan pascareformasi,” jelas Desi Sri Rahayu, editor Kumpulan Cerpen Tahta dan Sang Hyang Kucing.

Gambar 

Kumpulan Cerpen Majalah Pendapa “Tahta dan Sang Hyang Kucing” yang diterbitkan oleh LPM Pendapa tahun 2013. Foto oleh Ika H.

Buku kumpulan cerpen ini merupakan buku kedua terbitan LPM Pendapa setelah Jogja Dalam Keistimewaan. Adapun tujuan diterbitkannya buku kumpulan cerpen ini yakni untuk memublikasikan cerpen yang pernah termuat dalam majalah Pendapa. Judul buku diambil dari dua buah judul cerpen yaitu Tahta dan Sang Hyang Kucing.

 Taofiq, Pimpinan Umum LPM Pendapa menjelaskan bahwa kedua judul tersebut diambil karena cukup menggambarkan situasi dan kondisi bangsa tentang pergulatan kekuasaan. “Tahta itu mengarah ke kekuasaan. Sang Hyang Kucing menandakan pemimpin yang akhirnya jatuh,” ungkapnya.

Desi dan kawan-kawan harus mengumpulkan kembali arsip-arsip cerpen dari tahun 1988, tahun awal terbit Majalah Pendapa, hingga tahun terbit 2011. Pengumpulan kembali arsip-arsip tersebut sekaligus menjadi kendala bagi mereka. Apalagi beberapa majalah tidak ditemukan arsipnya. “Kami sampai harus pinjam ke alumni, seperti Mas Wahyana Giri untuk kami ketik lagi cerpennya,” ungkap Desi. Kendala ini cukup menyulitkan sehingga agenda penerbitan antologi cerpen yang seharusnya terbit di tahun 2011 menjadi molor dua tahun lamanya.

Dalam waktu enam bulan, akhirnya Desi dan kawan-kawan mampu merampungkan antologi cerpen ini di akhir tahun 2013. Dua puluh lima buah judul cerpen yang disusunnya menjadi persembahan indah LPM Pendapa yang juga menginjak usia ke-25 pada 2013 lalu. Cerpen-cerpen yang masuk sebagian besar ditulis oleh anggota Pendapa sendiri. Meski demikian ada juga cerpen yang ditulis oleh Pranowo, yang kala itu masih menjabat sebagai dosen UST, dan juga Ety Syarifah, seorang guru dari SMAN 1 Muntilan.

Animo menulis rendah

Kumpulan cerpen ini bukanlah rencana akhir bagi Desi, Taofiq, dan kawan-kawan LPM Pendapa lainnya. Desi mengatakan bahwa LPM Pendapa berencana untuk menerbitkan buku kembali. “Inginnya yang menulis kawan-kawan dari LPM Pendapa sendiri dan bukunya tematik,” jelasnya.

Namun, keinginan Desi masih terhalang dengan minimnya partisipasi dari kawan-kawannya. Ia mengaku mahasiswa UST masih apatis sehingga kurang tergerak untuk menghidupi pers kampus. Desi, yang sudah empat tahun menjadi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UST, berpendapat bahwa jiwa kritis dan kesadaran akan lingkungan sekitar masih jauh dimiliki teman-teman sesama mahasiswa di kampusnya.

Ahmad Mustaqim, alumni LPM Pendapa yang ditemui di sekretariat LPM Pendapa Jalan Batikan No. 02 Komplek Perpustakaan Pusat UST, menuturkan hal yang sama. Menurutnya budaya literasi di UST jauh berbeda dengan kampus lain. “Di kampus UST kurang antusias untuk menulis. Dosen juga jarang menulis di luar,” tambahnya. Hal ini juga yang membuat kawan-kawan LPM Pendapa mengalami kesulitan untuk menentukan siapa yang cocok untuk menulis kata pengantar dalam Tahta dan Sang Hyang Kucing. Namun akhirnya dipilihlah Satmoko Budi Santoso, cerpenis dari luar lingkungan UST.

Meski demikian, Mas Qim, panggilan akrab Ahmad Mustaqim, tetap optimis LPM Pendapa dapat menggerakkan budaya menulis bagi mahasiswa UST. Oleh karena itu, LPM Pendapa sangat terbuka bagi mahasiswa maupun dosen yang ingin menyumbangkan karyanya di majalah Pendapa. “Redaksi mempersiapkan rubrik opini ataupun cerpen untuk diisi oleh non anggota LPM,” jelasnya.

Akhirnya, kumpulan cerpen yang berhasil diterbitkan oleh LPM Pendapa telah membuktikan bahwa pers kampus tidak selalu sarat akan berita-berita politik saja. LPM Pendapa telah mampu menjadi sarana penyalur aspirasi dalam bentuk tulisan bergenre sastra yang segar dan ekspresif. Santai, indah, namun tidak keluar dari permasalahan sosial yang kini jamak terjadi.

 

 

 

 

Kiriman dari Timur

Jumat , 14 Februari 2014 terasa tidak biasa. Hari itu saya bangun jam 6 pagi. Langit masih gelap. Padahal di hari biasanya, jam 5.30 saja langit sudah terang. Setelah menengok ke luar, ternyata hujan abu telah memenuhi udara dan halaman rumah. Sampai jam 6.30, kondisi masih sama. Matahari belum terlihat cahayanya. Jam 7 pagi cahaya matahari mulai terlihat, masuk meewati sela-sela udara yang berdebu.

Saya langsung teringat pada empat tahun lalu saat Merapi meletus. Hujan abu memutihkan Jogja. Tapi kali ini bukan karena Gunung Merapi. Hujan abu yang terjadi kali ini merupakan kiriman dari Gunung Kelud yang meletus tadi malam jam 22.50.

Tidak bisa membayangkan sedahsyat apa letusannya sampai-sampai abu vulkaniknya sampai di Jogja. Padahal jaraknya beratur-ratus kilometer. Bahkan siang hari di berita tv juga abu kelud sudah sampai Jawa Barat. Zia, kawan saya dari Cirebon juga bilang rumahnya terkena abu Kelud meski gak setebal di Jogja.

Photo0499

Kondisi depan kontrakan setelah hujan abu.

Sampai empat hari setelah hujan abu, Jogja masih diselimuti abu. Namun banyak juga toko-toko atau instansi-instansi yang mengerahkan karyawannya untuk turun membersihkan debu dengan mewadahkan dalam plastic ataupun menyiramnya. Tapi tetap saja, beberapa jam kemudian abu sudah datang lagi karena terbawa angina atau kendaraan yang lewat. Ini melebihi abu Merapi kemarin. Abunya lebih halus dan juga lebih banyak. Semoga saja bencana di negeri ini cepat berakhir. Semoga segera teratasi dan kita semua dilindungi.

Photo0501

Taman kecil depan kontrakkan gak luput dari abu Kelud

Menanti Maret

“Bulan Maret masih lama ya?” ucap Mas beberapa hari lalu. Ya, kami memang sedang menanti-nanti bulan Maret. Akan ada hal baru di bulan itu.

Akhir Januari lalu, Mas memutuskan untuk datang ke rumah dan berbicara kepada kedua orangtuaku akan kemantapan hatinya ingin meminangku. Bermodalkan kesungguhan, keberanian, dan juga ridho keluarganya, Mas datang. Kedatangan dan niat baiknya disambut baik oleh kedua orangtuaku.

Dunia seakan berhenti berputar. Tidak ada kebisingan. Yang aku dengar kala itu hanya Mas yang dengan santunnya berbicara pada Bapak dan Ibu, pun juga Bapak yang dengan bijak menanggapi kata-kata yang disampaikan Mas. Sedang aku, dadaku sesak. Rasa ingin menangis tercekat di tenggorokan. Bahagia bercampur haru menjadi satu.

Dugaanku keliru. Semula yang kupikir Bapak akan menunda keinginan kami ini ternyata menyambut baik. Terlebih karena Mas telah mengatakan bahwa kedatangannya saat ini juga telah diridhoi oleh kedua orangtua dan keluarganya. “Aku ridho. Aku terima kasih banget sampean ndhuwe rasa welas karo Dina.” Begitu ucapan Bapak yang masih saja aku ingat di suatu sore lepas magrib kala itu.

Ibu lebih banyak terdiam mendengarkan. Sesekali Ibu mengatakan untuk berpikir ulang lantaran aku belum lulus kuliah. Tapi Bapak lain. Bapak lebih melihat hal ini dari sisi agama. Menurut pengetahuaannya, ada 4 hal dalam Islam yang harus disegerakan, yaitu menyegerakan solat saat azan telah berkumandang, segera menguburkan orang yang telah mati, segera melunasi utang, dan segera menikahkan anak saat tiba waktunya.

Ada perasaan beda setelah saat itu. Lega. Bagaikan seorang perindu yang bertemu kekasihnya. Bagaikan bumi yang tersirami hujan setelah musim panas yang lama.

Jika ada sesuatu hal di dunia ini yang tak bisa diungkapkan, itu hanyalah kebahagiaan dan kesedihan. Dan inilah awal kebahagiaan kami berdua setelah 9 tahun menjalani kisah kasih. Mendapat restu dari orang tua kami untuk melangkahkan kaki ke tangga hidup selanjutnya.

Kata ‘sayang’ lebih sering muncul dari Mas. Kata ‘rindu’ pun sudah tak dapat terhitung dari mulutku. Orang tuaku pun lebih perhatian pada Mas. Waktu akan cepat menggiring kita kepada kebahagiaan. Dan, menikmatinya adalah sebuah keindahan. Maret, we waiting for you.

TongSay Uda Asdi

Jumat, 13 September 2013.

Pagi ini sengaja tidak sarapan di rumah. Setelah selesai ngampus langsung cabut mencari tempat sarapan. Seketika berpikir akan sarapan apa kali ini. Ada beberapa sajian sarapan yang biasanya saya temukan: gudeg, bubur ayam, soto, nasi kuning, dan lontong sayur. Karena soto, gudeg dan naskun sudah sering, sedangkan bubur ayam tidak terlalu cocok untuk perut (hanya kenyang sesaat,gag tahan lama di dalam perut.red), kali ini pilihan acak jatuh pada lontong sayur.

Gag jauh dari kampus, saya menemukan warung tenda lontong sayur. Keadaan saat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada empat buah meja kecil di dalam tenda dengan tiga diantaranya terisi sepasang pembeli. Di luar, tikar-tikar yang sengaja digelar juga hanya diisi sepasang muda-mudi–iiih bahasanya berasa sudah tidak muda lagi,hihi–. Keadaan yang sepi ini kemungkinan karena jam sudah menunjukkan pukul 09.00 wib, jam yang bisa dibilang telat untuk sarapan. Di etalase tempat penjual, lontong yang berbungkus plastik juga tinggal beberapa gelintir saja, menandakan bahwa sebelumnya sudah banyak pelanggan datang ke warung tenda ini untuk sarapan.

Karena sudah jam 09.00, lesehan pun terlihat sepi.

Karena sudah jam 09.00, lesehan pun terlihat sepi.

Karena perut lapar, saya langsung memesan lontong sayur pakai telur dan segelas es teh manis. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu, jadi bisa langsung santap. Penampilannya menggoda banget sih. Kuahnya yang kuning hampir memenuhi sisi piring. Beberapa buah kerupuk menutupi isi di bawahnya. Penasaran akan rasanya makin memuncak setelah menyibak kerupuk dan menemukan isi dalam piring yang sebenarnya: potongan-potongan lontong, sebutir telur ayam bulat utuh, dan sayur bumbu kuning yang terdiri dari gori, labu siam dan kacang panjang. Dan rasa penasaran terjawab saat suapan pertama: setengah sendok makan kuah yang segar. Nyummiiii… gurih dan lezat.

Lontong sayur Uda Asdi yang menggiurkan.

Lontong sayur Uda Asdi yang menggiurkan.

Bisa jadi referensi buat tempat sarapan nih untuk kawan-kawan. Lontong Sayur Uda Asdi ini berada di sisi barat stadion Mandala Krida, depan asrama UGM. Menurut yang saya baca di spanduknya, warung ini ada cabangnya juga di Seturan, Jakal, Glagah, dll. Hemm emang perlu diperhitungkan juga sebagai referensi tempat sarapan. Harganya juga sangat terjangkau. Hampir kaget saat mau bayar. Rasanya gag percaya gitu Rp 7.500,- untuk sepiring tongsay pake telur dan segelas minuman. Mantap. Puas sekali rasanya. Setelah perut terisi, lanjut ke jadwal di Jumat pagi ini: ke Puskot untuk cari-cari referensi.

Secuil Kisah di Tempat Wisata

Sabtu, 10 Agustus 2013

Bulan ramadhan sudah dijalani. Lebaran juga sudah dilewati. Lalu sekarang apa lagi? Berwisata.

 

Jakarta memang sepi saat libur lebaran karena ditinggal mudik sebagian penduduknya. Tapi ruas-ruas jalan menuju tempat wisata tetap saja padat merayap. Tahun ini, Mbak Win, keponakan ibu, berkunjung ke rumah bersama dengan dua anaknya. Sudah hampir tujuh tahun gak ketemu, Ivan sudah kelas VII tapi badannya tetap kecil, tidak tinggi. Sedangkan adiknya, Nadia, yang baru kali ini aku lihat, sudah berusia 4 tahun. Badannya lebih besar daripada Ivan sewaktu kecil.

Lebaran ketiga, saya, ibu, dan adik bungsu mengantarkan Mbak Win dan anak-anaknya ke kebun Binatang Ragunan. Daripada diam sendiri di rumah, mending saya ikut mereka aja. Jalan macet dari Kampung Kandang, jadi saya parkir kendaraan di depan rumah makan bergaya joglo, kurang lebih 200 meter sebelum pintu barat Ragunan.

Sampai di Ragunan, lagi-lagi antrian loket masuk penuh sesak. Saya harus mengantri hampir 30 menit untuk dapat giliran membeli tiket masuk. Ada saja orang yang menyela di sela-sela antrian berharap untuk bisa cepat dapat tiket masuk. Kenapa sih gag bisa sabar menunggu giliran, toh tiket masuk tidak akan habis. Masih banyak tersedia. Ini dia gambaran ketidakdisiplinan yang pertama. Menunggu memang tidak menyenangkan, tapi kalau ada hal-hal yang memang harus ditunggu, seperti mengantri membeli tiket, ya sabarlah menunggu.

Harga tiket yang terjangkau membuat Bonbin Ragunan selalu ramai dikunjungi.

Harga tiket yang terjangkau membuat Bonbin Ragunan selalu ramai dikunjungi.

Agar tidak  bosan, lakukan hal lain yang bisa membunuh waktu menunggu.  Bisa baca koran/buku, dengar musik atau membuka medsos lewat hape, dan atau mengobrol dengan keluarga atau pengunjung lain. “Ibu/Bapak/Mbak dari mana? Jam berapa datang ke sini? Ramai2 sama keluarga?” dll. Kalau saya sih milih yang pertama, tapi karena tidak ada bacaan, jadi pilihan jatuh ke yang kedua. Yang ketiga kemungkinannya kecil, mengingat di Jakarta orang-orang lebih bersifat individualis. Foto-foto sekitar saya, dan gag nyangka ternyata udah tiba giliran saya membayar tiket.

Bonbin Ragunan memang setiap libur lebaran selalu ramai. Pasti itu. Kebetulan rumah saya hanya 10 menit saja dari sana, jadi tau deh intensitas pengunjung bonbin. Jadi gag heran jika saat masuk bonbin, wuaaahh ramai, padat!

Ketidakdisiplinan saat mengantri kereta keliling.

Ketidakdisiplinan saat mengantri kereta keliling.

Di mana-mana antri! Mau naik gajah antri sampai jalan pinggir loket. Mau naik kereta keliling juga harus antri dan rela berebutan saat kereta datang. Ini hal kedua dalam potret ketidakdisiplinan kita. Semua yang pegang tiket kereta pasti akan jatuh giliran menaikinya. Jadi untuk apa berebutan? Belum lagi keruwetan karena para calon penumpang menunggu kereta di pinggir jalan dengan berdesak-desakan. Berdesak-desakan juga akan membawa kerugian. Dompet atau barang berharga bisa saja jatuh karena bergesekan dengan yang lain, sikut-sikutan bisa saja terjadi, yang paling parah bisa jatuh dan terinjak atau tertabrak kereta!

Coba sabar sedikit dan berdisiplin! Tidak adanya pengawasan dari petugas kereta menjadi penyebab berebutan tempat duduk di kereta. Coba dibuat pagar-pagar  berbaris. Calon penumpang sesuai dengan waktu kedatangan berderet rapi di pagar tersebut. Sehingga saat kereta datang, satu persatu penumpang terangkut dan rapi. Hal ini meminimalkan terjadinya kerugian seperti di atas. Penumpang terkendali, aman, dan nyaman! Seperti yang terjadi di antrian perahu bebek. Di sana calon penumpang berjejer rapi di tengah pagar pembatas untuk mendapatkan giliran menaiki perahu bebek.

Satu jam di bonbin, kami memutuskan untuk melepas lelah. Waktu makan siang tiba, kebetulan sudah pukul 12.00. Kami kemudian menggelar tikar plastik yang telah kami beli di depan bonbin seharga Rp 5.000,-. Ibu mengeluarkan bekal yang kami bawa. Kebetulan tadi pagi ayah memasakkan Soto Jawa. Selain itu sambal goreng kentang, manisan kolang-kaling, beberapa buah jeruk, dan tak lupa air minum. Selesai makan, kami meneruskan jalan-jalan.

Tiga jam setelah berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Sementara menunggu Ibu dan Mbak Win memilih-milih boneka untuk anak-anaknya, saya memilih duduk manis, melihat dan mengamati sekitar. Ternyata, tidak jauh dari tempat saya duduk adalah tong sampah yang sudah full oleh sampah, sampai-sampai sampahnya membludak ke luar. Di sisi kanan saya ternyata juga banyak bertebaran sampah-sampah plastik maupun kertas bekas makanan. Sungguh disayangkan, pengunjung di sini belum sepenuhnya sadar akan kedisiplinan dalam membuang sampah pada tempatnya. Potret ketiga tentang ketidakdisiplinan.

Tumpukan sampah !

Tumpukan sampah !

Sampah di mana-mana.

Sampah di mana-mana.

Seharusnya pengelola bonbin lebih banyak lagi dalam menyediakan tempat sampah. Saya melihat masih sangat jarang tempat sampah, lagi pula jika ada jaraknya terlampau jauh dan tempatnya terlalu kecil. Bayangkan ada 1000 orang yang datang dengan masing-masing menghasilkan sampah satu buah. Tidak mungkin tempat sampah yang kecil memadai untuk menampung sampah pengunjung yang banyak.

Huffth akhirnya … selesai sudah berwisatanya. Tapi malah baru sadar kalau saya berceritanya malah tentang kedisiplinan gini yaa… tapi apa lagi selain itu. Pasti lah kalau ke bonbin ya ngeliat binatang. Tapi gak semuanya sih. Cuma lihat zebra, gajah, komodo, gorilla, buaya, ular, dan unggas pun gag semua. Jadi gak begitu banyak untuk diceritakan. Lebih menarik sisi lainnya aja😀

Salam–.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

Soto Jawa

Sebenarnya mau kasih judul Soto Nusantara. Tapi setelah dipikir-pikir, lebih cocok kalau olahan kali ini diberi nama Soto Jawa saja, karena perpaduan dari beberapa resep soto Lamongan, Sokaraja, dan Madura/Surabaya.

Sabtu, 10 Agustus 2013, saya mendampingi ayah membuat soto. Seperti biasa, kalau pulang ke rumah pasti ‘cooking class’ sama ayah atau ibu.

Sekadar memanfaatkan bumbu soto yang sebelumnya telah dibuat beliau, soto kali ini menggunakan bahan dasar ½ kg daging sapi yang sebelumnya direbus dahulu. Pilihan penyajian bisa dengan menggoreng daging ataupun dengan mencampurkannya langsung dengan kuah soto.

Bumbu yang dihaluskan:

7 siung bawang putih

6 butir kemiri

Segenggam jahe

2 ruas jari kunyit

1 sdmLada

Bahan lain: 3 siung bawang putih yang dicincang, 2 lembar daun salam, 3 lembar daun jeruk, 2 batang serai yang telah dimemarkan, 5 sdm minyak goreng untuk menumis, bawang merah goreng, gula, garam dan penyedap secukupnya, daun bawang, dan seledri.

 

Bahan koya (serbuk gurih): 10 buah kerupuk udang dan 3 siung bawang putih goreng. Keduanya ditumbuk hingga lembut.

 

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak, tumis bawang putih hingga kecokelatan, tiriskan.
  2. Gunakan minyaknya kembali untuk menumis bumbu halus hingga wangi. Masukkan daun salam, daun jeruk, dan serai.
  3. Masukkan air kaldu yang didapat dari rebusan daging. Tunggu hingga mendidih, masukkan garam, penyedap, gula, dan bawang putih goreng.
  4. Masukkan daging yang telah diiris tipis. Tunggu hingga matang.
  5. Daun bawang, seledri, maupun bawang merah goreng sesuai selera bisa dimasukkan ke dalam kuah atau disajikan terpisah.

 

Tidak sampai setengah jam Soto Jawa pun jadi. Untuk menghidangkannya, taburkan serbuk koya di atas sajian dan kerupuk warna. Hemm dan soto pun siap untuk dilahap. Kebetulan masih ada ketupat, jadi kami makan dengan ketupat sebagai pengganti nasi. Nyummiii….

 

Daun bawang & seledri, bubuk koya, dan kerupuk warna.

Daun bawang & seledri, bubuk koya, dan kerupuk warna.

DSC_0000563

Soto Jawa : perpaduan unik sajian soto dengan ketupat dan bubuk koya.

Kapan-kapan bisa dipraktikkan di kos nih. Daging bisa diganti dengan ayam (yang lebih murah sesuai harga anak kos😀 ). Mungkin kawan-kawan bingung mengapa disebut Soto Jawa. Di mana letak perpaduannya? Pemakaian daging identik dengan soto Madura. Pemakaian ketupat dan kerupuk warna identik dengan soto Sokaraja, dan taburan koya seperti Soto Lamongan yang biasa saya santap di Yogya. Pokoknya gak kecewa deh sama rasanya. Siapa dulu chefnya. Selamat mencoba.

Salam–.