Sebentuk Keunggulan, Sekeping Keharmonisan di Tengah Seribu Pura

Sebagai tujuan wisata utama di Indonesia, Bali memang tidak pernah mati. Geliat kehidupannya selalu berdenyut setiap waktu. Pesonanya tidak hanya terpancar dari kota-kotanya saja, bahkan sampai pelosok Pulau Dewata ini pun, mampu menjadi magnet yang menarik pelancong dari seluruh dunia.

Awalnya penulis tidak percaya. Bagaimana bisa Bali menyulap hampir setiap sudutnya menjadi daerah tujuan wisata. Munduk, salah satu desa di Kabupaten Buleleng contohnya. Rumah-rumah tua bergaya kolonial yang hampir runtuh disulap menjadi penginapan-penginapan. Penulis menyaksikan penginapan-penginapan itu dibangun sangat hoomy.  Pengunjung yang menginap akan merasa bagai berada di rumah sendiri. Kenyamanan inilah yang membuat betah para wisatawan menikmati keindahan alamnya. Kelas penginapannya pun beragam mulai untuk singgah kelas backpacker hingga wisatawan berkelas.

Kontur tanah yang berbukit-bukit tidak menjadi penghalang bagi pemerintah setempat untuk membangun wisata. Air terjun di dalam bukit-bukit di tengah desa pun dijadikan tujuan objek wisata. Butuh waktu selama satu jam untuk mencapai air terjun Melanting, salah satu air terjun di desa tersebut, dengan melewati jalan setapak yang cukup terjal. Perjalanan menuju ke sana akan cukup menguras tenaga.

Tapi jangan khawatir, rerimbunan pohon-pohon beraneka ragam akan menemani kita sepanjang jalan. Sebut saja pohon cengkeh, kakao, salak, lada, hingga vanilla pun bisa kita temui di hutan kecil ini. Munduk, seolah memanjakan wisatawannya, terutama wisatawan asing yang memang khusus berlibur untuk menemukan kembali keharmonisan alam yang jarang mereka temukan di sela-sela kesibukan di negaranya.

Saat berkunjung ke Pura Beji, Buleleng, penulis terkesima oleh seorang pemandu wisata lokal yang mengaku menguasai lima bahasa Eropa, yaitu Inggris, Spanyol, Belanda, Prancis, dan Rusia. Bagaimana ia belajar kelima bahasa itu tidak penting. Justru yang terpenting adalah bagaimana Bali berusaha memberdayakan masyarakatnya untuk bisa melayani wisatawan asing melalui bahasa ibu mereka.

Di Pasar Candikuning, Bedugul, penulis makin percaya bahwa Bali memang istimewa. Bagaimana tidak, sampai penjual oleh-oleh di sana pun bisa berbagai bahasa asing meskipun hanya menuturkan harga-harga barang dagangannya. Dan penulis yakin, mereka tidak belajar di kelas formal, apalagi mengambil waktu kursus dengan sengaja untuk mempelajari bahasa asing tersebut di kelas nonformal.

Setidaknya realita yang ditemui di atas mampu menggambarkan keunggulan masyarakat Bali dalam memanfaatkan alam yang mereka miliki. Kesadaran pada keindahan dan kecintaannya pada alam menjadikan masyarakat  pulau seribu pura ini menggunakan seluruh akal budinya untuk melayani wisatawan dunia yang  ingin berkenalan alam dan tradisinya.

Keharmonisan di atas air

Siang itu penulis masih berada di Bedugul. Dengan  ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, daerah ini sudah tentu menawarkan kesejukan. Kabut terkadang turun hingga gerimis sesekali menitik. Saran penulis, sediakan payung dan terutama baju hangat jika Anda berkunjung ke sini.

Siang belum jauh terlewat. Namun semilir anginnya telah merebak bulu-bulu di kulit. Beruntung kabut belum jauh turun. Di atas, dia seakan mengancam untuk memberikan kesejukan lebih yang akan  merasuk hingga tulang.

Ada pemandangan yang berbeda di daerah ini. Di tepi jalan, berdiri sebuah masjid besar, Masjid Al Hidayah Bedugul. Di tengah-tengah Pulau yang 90% masyarakatnya menganut agama Hindu, daerah Bedugul ini mayoritas dihuni oleh para muslim. Maka tak heran, saat berada di Pasar Candikuning, penulis melihat penjual wanitanya yang sebagian besar berkerudung.

Keberadaan masjid di tengah-tengah Bedugul, tak lantas menghapus keberadaan pura sebagai tempat ibadah agama mayoritas. Tak jauh dari situ, berdirilah satu komplek Pura Ulun Danu Bratan yang menawan. Sebagai salah satu pura suci di Pulau Bali, penulis pastikan Anda tidak asing dengan pura yang satu ini. Ya, pura ini begitu dekat dengan kita karena tergambar jelas di selembar uang Rp 50.000,00.

Namun sebenarnya, bukan itu alasan yang menjadi daya tarik untuk berkunjung ke pura ini. Letaknya di tepian Danau Bratan membuat Pura Ulun Danu tampak serasi dengan alam. Apalagi jika kabut tidak menggantung di atas danau, kita bisa menyaksikan pohon-pohon yang rapat nan hijau melatari pura.

Memasuki pura ini, kita akan disambut oleh bunga-bunga terompet berwarna-warni dan beberapa cemara di atas taman yang berumput hijau nan segar. Di dekat pintu masuk juga terdapat sebuah bangunan stupa yang di dalamnya terdapat patung Budha.

Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di Danau Bratan, Bedugul, Bali. Menjelang sore pura ini sering ditutupi kabut.

Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di Danau Bratan, Bedugul, Bali. Menjelang sore pura ini sering ditutupi kabut.

Lepas dari taman, mata akan segera menatap takjub pada kokohnya Pura Ulun Danu Bratan. Sejarah mengatakan bahwa pura berarsitektur Hindu-Budha ini dibangun tahun 1633 M. Namun, sebagai salah satu pura tertua, tidak menjadikan bangunan ini tampak seusianya. Warna kuning dan oranye yang mendominasi bangunan masih tampak jelas terlihat. Meru yang bertingkat 11 masih kokoh berdiri.

Memandang wajah pura yang berada di atas danau ini memunculkan rasa tenang dalam pikiran. Udara yang sejuk menambah rasa teduh dan nyaman. Air danau sesekali beriak kecil terkena semilir angin. Kabut yang perlahan turun tidak mengurangi keindahan. Seakan Tuhan hadir di sini, mengharmoniskan alam ciptaannya.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s