Menanti Maret

“Bulan Maret masih lama ya?” ucap Mas beberapa hari lalu. Ya, kami memang sedang menanti-nanti bulan Maret. Akan ada hal baru di bulan itu.

Akhir Januari lalu, Mas memutuskan untuk datang ke rumah dan berbicara kepada kedua orangtuaku akan kemantapan hatinya ingin meminangku. Bermodalkan kesungguhan, keberanian, dan juga ridho keluarganya, Mas datang. Kedatangan dan niat baiknya disambut baik oleh kedua orangtuaku.

Dunia seakan berhenti berputar. Tidak ada kebisingan. Yang aku dengar kala itu hanya Mas yang dengan santunnya berbicara pada Bapak dan Ibu, pun juga Bapak yang dengan bijak menanggapi kata-kata yang disampaikan Mas. Sedang aku, dadaku sesak. Rasa ingin menangis tercekat di tenggorokan. Bahagia bercampur haru menjadi satu.

Dugaanku keliru. Semula yang kupikir Bapak akan menunda keinginan kami ini ternyata menyambut baik. Terlebih karena Mas telah mengatakan bahwa kedatangannya saat ini juga telah diridhoi oleh kedua orangtua dan keluarganya. “Aku ridho. Aku terima kasih banget sampean ndhuwe rasa welas karo Dina.” Begitu ucapan Bapak yang masih saja aku ingat di suatu sore lepas magrib kala itu.

Ibu lebih banyak terdiam mendengarkan. Sesekali Ibu mengatakan untuk berpikir ulang lantaran aku belum lulus kuliah. Tapi Bapak lain. Bapak lebih melihat hal ini dari sisi agama. Menurut pengetahuaannya, ada 4 hal dalam Islam yang harus disegerakan, yaitu menyegerakan solat saat azan telah berkumandang, segera menguburkan orang yang telah mati, segera melunasi utang, dan segera menikahkan anak saat tiba waktunya.

Ada perasaan beda setelah saat itu. Lega. Bagaikan seorang perindu yang bertemu kekasihnya. Bagaikan bumi yang tersirami hujan setelah musim panas yang lama.

Jika ada sesuatu hal di dunia ini yang tak bisa diungkapkan, itu hanyalah kebahagiaan dan kesedihan. Dan inilah awal kebahagiaan kami berdua setelah 9 tahun menjalani kisah kasih. Mendapat restu dari orang tua kami untuk melangkahkan kaki ke tangga hidup selanjutnya.

Kata ‘sayang’ lebih sering muncul dari Mas. Kata ‘rindu’ pun sudah tak dapat terhitung dari mulutku. Orang tuaku pun lebih perhatian pada Mas. Waktu akan cepat menggiring kita kepada kebahagiaan. Dan, menikmatinya adalah sebuah keindahan. Maret, we waiting for you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s