Welcome 2013

Gag terasa tahun 2012 sudah berakhir. Banyak berkah yang Alloh SWT berikan untukku dan keluarga di tahun ini. Alhamdulillah. Hanya itu yang aku bisa ucapkan hanya pada-Nya. Hanya syukur dan terus mencoba menyempurnakan ibadah agar kenikmatan selalu bertambah. Kenikmatan bukan hanya dari segi materi, tetapi juga kebahagiaan di dalam diri, dan itu yang terpenting. Bukankah Ki hajar mengajarkan untuk tertib-damai dalam diri untuk mewujudkan salam-bahagia, keselamatan dan kebahagiaan diri.

Tahun ini aku mendapatkan banyak kejutan. Apa yang aku ingin dan butuhkan perlahan ada di hadapanku. Pengajuanku diterima baik oleh ayah ibu. Di penghujung bulan Februari, “si biru” lahir. Hadiah termahal yang diberikan oleh orang tuaku. Akhirnya setelah perjuangan satu semester berpeluh keringat (jalan dari ujung Batikan hampir setiap harinya). Meskipun dengan merengek tapi tidak memaksa, si biru menjadi temanku melalui hari-hari di Jogja. Menjalani segala kepraktisan dengannya. Ya, praktis dan memudahkan segala perjalananku. Syukur alhamdulillah. Pemberian orang tuaku akan aku rawat dengan baik-baik. Ah, rasanya gag butuh lagi hadiah di hari ulang tahun dari kedua orangtuaku. Yang pentinga kami sekeluarga sehat dan bahagia. Apalagi kalau ingat masa-masa itu dulu, masa-masa penuh keprihatinan, perjuangan lahir dan perlawanan batin. Teringat juga akan pencapaian orang tuaku dalam menukar si biru dengan keringatnya. Terima kasih ayah. Terima kasih ibu. Untuk semua hal yang tak terhingga ini.

Bersyukur juga kalau di tahun ini pula adikku mendapatkan “si biru”-nya juga. Aku ikut senang. Bagaimanapun adikku juga sudah melewati masa keprihatinan itu bersama dengan kami. Jadi aku ikut senang jika dia juga senang. Oh ya, my little sister juga dapet kok. Dapet “si pinky”-nya. Sesuai dengan kesukaannya, penuh dengan gambar barbie -_-“

Sebuah pencapaian yang baik. Selamat ayah, selamat ibu. Inilah buah dari kesabaranmu selama ini. Aku masih banyak belajar tentang kehidupan darimu. Kita selalu saling mengingatkan di kala kita bahagia. Mengingatkan untuk selalu bersyukur. Orang bilang memang benar, bahwa jangan kita selalu menengok ke atas. Tapi hendaknya kita juga menengok ke bawah, ke belakang sebagia pertimbangan hari depan.

Kebahagiaan lain datang dari diriku. Cuti sebulan di museum aku dapatkan karena aku harus ke Bali. Perjalanan ini gak sengaja. Tepatnya 3 bulan sebelum aku ke Bali, sahabat lama yang tiba-tiba muncul, Ipung, menghubungiku dengan tanpa basi-basi mengatakan kalau dia sudah menyerahkan jobnya kepadaku. Jadi deh beberapa menit setelah dia bilang, Pak Mahmud, agen travel dari Bali menghubungiku. Langsung oke dan seketika juga menerima job darinya: being a guide! Perjalanan di Bali menjadi pengalaman yang benar-benar berkesan. Di tempat baru (pertama dan langsung guiding), bertemu orang-orang baru dalam lingkup keprofesionalitasan, memutuskan masalah, bertemu keluarga baru yang super sekali. Gak akan pernah terlupakan. Masih terekam jelas di memoriku, a little photographic memory J

Dari pertemuan itu, sampai sekarang kami masih bertukar kabar lewat email. Sama seperti kita, ternyata mereka juga sangat terbuka sekali. Saya ingat mereka mengomentari tentang jilbab dan Islam. Di Perancis memang mereka jarang menemukan, aneh bagi mereka di sana. Tapi ketika saya temani sepanjang liburan mereka di Pulau Dewata, otomatis mereka harus membuka hati dan pikiran. Dan itu mereka lakukan. Sangat terbuka. Sesekali kami juga berdiskusi tentang politik (saat di Klungkung), pendidikan (khususnya belajar bahasa asing, sewaktu di Tenganan), Versailles (sewaktu di Tirtagangga), kesehatan (di Munduk dan di perjalanan, kebetulan si ibu seorang peneliti). Selebihnya pengalaman di sana amat sangat berkesan. Aku selalu kangen dengan Kintamani, Munduk, Amed… aaarghhh pokoknya semua: Tirtagangga, Besakih (padahal aku gag masuk, dan sayang banget!), dan Sanur, tempat tinggalku di sana.

Cinta. Gag ketinggalan tentang cinta. Tapi, bakalan panjang banget kalo cerita itu di sini. Mungkin sampai besok gag selesai (setahun dong :P). Yang jelas, tahun ini adalah tahun yang amat bergejolak dalam perasaan cinta. Hal yang terindah adalah aku telah menemukan jawaban siapa yang lebih tepat. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan “mengapa”, tapi “apa”. Bukan mengapa memilih dia. Tapi apa yang sudah dia lakukan selama ini. Dia tidak pernah bohong, dia selalu menepati perkataannya, dia selalu ada saat aku luka atau bahagia, dia selalu mencoba membuatku senang bahagia, tidak ada tangis saat bersamanya, paling tahu gimana menghadapi aku saat aku marah, senang, sedih. Dia adalah dia. Tujuh tahun bukan hal yang tanpa arti. Tapi lebih dari itu semua. Lebih bagi kami untuk mengenal, memahami. Lebih dari cukup belajar menemukan kebahagiaan. Tapi ini bukan akhir. Di depan, bakal ada banyak lagi yang menyandung perjalanan kami. Tapi itu semua mudah selama kami berjalan di atas komitmen menuju kebahagiaan karena-Nya. Meminjam kata BJ Habibie, aku dan dia manunggal dalam jiwa, dan hati. Semoga! (menulis tentangnya lebih menguras banyak air mata daripada menulis paragraf 2-4 di atas :D)

Semoga di tahun 2013 makin banyak peruntungan kita dalam berbagai hal karena kita telah belajar dari tahun sebelumnya. Bukan waktunya lagi bikin resolusi. Tapi waktunya untuk melakukan hal-hal baru yang dapat merubah sikap dan pemahaman kita dalam hidup. Ibadah juga harus selalu ditingkatkan. Ingat kata Pak Ustad, “kehidupan di dunia ini hanya setitik, sedangkan kehidupan di akhirat adalah sebuah garis yang tidak tahu ujungnya.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s