Secuil Kisah di Tempat Wisata

Sabtu, 10 Agustus 2013

Bulan ramadhan sudah dijalani. Lebaran juga sudah dilewati. Lalu sekarang apa lagi? Berwisata.

 

Jakarta memang sepi saat libur lebaran karena ditinggal mudik sebagian penduduknya. Tapi ruas-ruas jalan menuju tempat wisata tetap saja padat merayap. Tahun ini, Mbak Win, keponakan ibu, berkunjung ke rumah bersama dengan dua anaknya. Sudah hampir tujuh tahun gak ketemu, Ivan sudah kelas VII tapi badannya tetap kecil, tidak tinggi. Sedangkan adiknya, Nadia, yang baru kali ini aku lihat, sudah berusia 4 tahun. Badannya lebih besar daripada Ivan sewaktu kecil.

Lebaran ketiga, saya, ibu, dan adik bungsu mengantarkan Mbak Win dan anak-anaknya ke kebun Binatang Ragunan. Daripada diam sendiri di rumah, mending saya ikut mereka aja. Jalan macet dari Kampung Kandang, jadi saya parkir kendaraan di depan rumah makan bergaya joglo, kurang lebih 200 meter sebelum pintu barat Ragunan.

Sampai di Ragunan, lagi-lagi antrian loket masuk penuh sesak. Saya harus mengantri hampir 30 menit untuk dapat giliran membeli tiket masuk. Ada saja orang yang menyela di sela-sela antrian berharap untuk bisa cepat dapat tiket masuk. Kenapa sih gag bisa sabar menunggu giliran, toh tiket masuk tidak akan habis. Masih banyak tersedia. Ini dia gambaran ketidakdisiplinan yang pertama. Menunggu memang tidak menyenangkan, tapi kalau ada hal-hal yang memang harus ditunggu, seperti mengantri membeli tiket, ya sabarlah menunggu.

Harga tiket yang terjangkau membuat Bonbin Ragunan selalu ramai dikunjungi.

Harga tiket yang terjangkau membuat Bonbin Ragunan selalu ramai dikunjungi.

Agar tidak  bosan, lakukan hal lain yang bisa membunuh waktu menunggu.  Bisa baca koran/buku, dengar musik atau membuka medsos lewat hape, dan atau mengobrol dengan keluarga atau pengunjung lain. “Ibu/Bapak/Mbak dari mana? Jam berapa datang ke sini? Ramai2 sama keluarga?” dll. Kalau saya sih milih yang pertama, tapi karena tidak ada bacaan, jadi pilihan jatuh ke yang kedua. Yang ketiga kemungkinannya kecil, mengingat di Jakarta orang-orang lebih bersifat individualis. Foto-foto sekitar saya, dan gag nyangka ternyata udah tiba giliran saya membayar tiket.

Bonbin Ragunan memang setiap libur lebaran selalu ramai. Pasti itu. Kebetulan rumah saya hanya 10 menit saja dari sana, jadi tau deh intensitas pengunjung bonbin. Jadi gag heran jika saat masuk bonbin, wuaaahh ramai, padat!

Ketidakdisiplinan saat mengantri kereta keliling.

Ketidakdisiplinan saat mengantri kereta keliling.

Di mana-mana antri! Mau naik gajah antri sampai jalan pinggir loket. Mau naik kereta keliling juga harus antri dan rela berebutan saat kereta datang. Ini hal kedua dalam potret ketidakdisiplinan kita. Semua yang pegang tiket kereta pasti akan jatuh giliran menaikinya. Jadi untuk apa berebutan? Belum lagi keruwetan karena para calon penumpang menunggu kereta di pinggir jalan dengan berdesak-desakan. Berdesak-desakan juga akan membawa kerugian. Dompet atau barang berharga bisa saja jatuh karena bergesekan dengan yang lain, sikut-sikutan bisa saja terjadi, yang paling parah bisa jatuh dan terinjak atau tertabrak kereta!

Coba sabar sedikit dan berdisiplin! Tidak adanya pengawasan dari petugas kereta menjadi penyebab berebutan tempat duduk di kereta. Coba dibuat pagar-pagar  berbaris. Calon penumpang sesuai dengan waktu kedatangan berderet rapi di pagar tersebut. Sehingga saat kereta datang, satu persatu penumpang terangkut dan rapi. Hal ini meminimalkan terjadinya kerugian seperti di atas. Penumpang terkendali, aman, dan nyaman! Seperti yang terjadi di antrian perahu bebek. Di sana calon penumpang berjejer rapi di tengah pagar pembatas untuk mendapatkan giliran menaiki perahu bebek.

Satu jam di bonbin, kami memutuskan untuk melepas lelah. Waktu makan siang tiba, kebetulan sudah pukul 12.00. Kami kemudian menggelar tikar plastik yang telah kami beli di depan bonbin seharga Rp 5.000,-. Ibu mengeluarkan bekal yang kami bawa. Kebetulan tadi pagi ayah memasakkan Soto Jawa. Selain itu sambal goreng kentang, manisan kolang-kaling, beberapa buah jeruk, dan tak lupa air minum. Selesai makan, kami meneruskan jalan-jalan.

Tiga jam setelah berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Sementara menunggu Ibu dan Mbak Win memilih-milih boneka untuk anak-anaknya, saya memilih duduk manis, melihat dan mengamati sekitar. Ternyata, tidak jauh dari tempat saya duduk adalah tong sampah yang sudah full oleh sampah, sampai-sampai sampahnya membludak ke luar. Di sisi kanan saya ternyata juga banyak bertebaran sampah-sampah plastik maupun kertas bekas makanan. Sungguh disayangkan, pengunjung di sini belum sepenuhnya sadar akan kedisiplinan dalam membuang sampah pada tempatnya. Potret ketiga tentang ketidakdisiplinan.

Tumpukan sampah !

Tumpukan sampah !

Sampah di mana-mana.

Sampah di mana-mana.

Seharusnya pengelola bonbin lebih banyak lagi dalam menyediakan tempat sampah. Saya melihat masih sangat jarang tempat sampah, lagi pula jika ada jaraknya terlampau jauh dan tempatnya terlalu kecil. Bayangkan ada 1000 orang yang datang dengan masing-masing menghasilkan sampah satu buah. Tidak mungkin tempat sampah yang kecil memadai untuk menampung sampah pengunjung yang banyak.

Huffth akhirnya … selesai sudah berwisatanya. Tapi malah baru sadar kalau saya berceritanya malah tentang kedisiplinan gini yaa… tapi apa lagi selain itu. Pasti lah kalau ke bonbin ya ngeliat binatang. Tapi gak semuanya sih. Cuma lihat zebra, gajah, komodo, gorilla, buaya, ular, dan unggas pun gag semua. Jadi gak begitu banyak untuk diceritakan. Lebih menarik sisi lainnya aja😀

Salam–.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s