Tokoh Besar di Atas Mata Uang

 

Jumat, (21/6),  matahari memancarkan sinarnya, melumat setiap jengkal benda di atas bumi. Namun, panasnya yang membakar tidak mengurangi semangat para penjual di Pasar Beringharjo. Denyut ekonomi terus bergerak di bawah terpal-terpal yang menyunggi panasnya matahari. Di sinilah mereka bergantung. Apapun mereka tawarkan. Barang-barang baru, lama, termasuk wajah tokoh bangsa dalam lembaran alat pembayaran.

 

Datang ke Yogyakarta rasanya tidak lengkap tanpa berkunjung ke Malioboro. Terbentang dari Stasiun Tugu hingga Kantor Pos di titik 0 kilometer, Malioboro telah dikenal dengan pedagang-pedagang kaki limanya yang menawarkan kerajinan khas Yogyakarta. Di malam hari, emperannya berubah menjadi resto kaki lima yang menawarkan masakan khas Yogyakarta seperti gudeg, nasi ayam kampung, bebek goreng, dan lain-lain. Malioboro, memang tidak pernah sepi akan segala aktivitas antara penjual dan pembeli.

Satu lagi bagian dari Malioboro yang tidak boleh terlewatkan adalah Pasar Beringharjo. Segala penjual tumpek blek memadati kios-kios pasar. Kesibukan mereka yang tanpa henti bagaikan denyut nadi yang memompa jantung pasar yang dulunya adalah hutan beringin ini. Di sisi depan diwarnai dengan kios-kios yang menjual beragam koleksi batik. Bagian tengah adalah penjual baju, tas, sandal atau sepatu, dan souvenir khas Yogyakarta. Di bagian paling belakang merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk urusan kebutuhan- kebutuhan dapur.

Selesai berkeliling bagian dalam pasar, cobalah untuk menengok sisi utara. Di gang sempit sisi utara Beringharjo, akan dapat kita temukan beberapa pedagang yang menjual barang-barang antik. Barang-barang tersebut ada yang memang benar-benar tua, seperti seterika arang, satu set cangkir-cangkir teh tua, dan foto-foto tua milik Bung Karno ataupun Raja Yogyakarta. Apapun yang antik, tua, dan unik tersaji di sini.

Namun, hal yang tak kalah menarik adalah kita akan menemukan penjual uang lama, baik kertas maupun koin. Uang-uang tersebut adalah uang yang pernah digunakan di Indonesia setelah jaman kemerdekaan, bahkan saat jaman kependudukan Belanda. Beberapa koleksi uang lama yang dijual juga berasal dari negara lain, seperti Belanda, China, dan Malaysia.

Masih dicari

Siang baru saja datang ketika penulis mengunjungi sebuah lapak di utara Pasar Beringharjo. Di gang sempit ini, penjual harus berbagi tempat dengan pemilik kios yang rata-rata emperannya memang digunakan sebagai lapak penjual barang-barang antik ini. Belum lagi jika pasar sedang ramai pengunjung, mereka harus rela memberi jalan bagi calon pembeli maupun pengunjung yang  sekadar melihat-lihat saja.

Di bawah terpal biru, Bu Mar menggelar dagangannya. Ia baru saja membuka lapaknya. Di atas tanah berukuran 2mx1m itu lah ia dan suaminya mencari penghasilan dengan berjualan barang antik dan uang jaman dulu hingga pukul 17.00.

Di atas meja kayu kecil, barang dagangan ibu dua anak ini tertata rapi. Setiap jenis dagangan ia letakkan di tempat yang sama, di dalam ranjang kotak kecil maupun nampan. Lonceng-lonceng besi berbagai ukuran, satu set cangkir teh tua, replika setrika arang berbagai ukuran, hingga mata uang jaman dulu yang semuanya masih tampak layak. Bu Mar tidak mengaku secara jelas dari mana ia mendapatkan barang dagangannya itu. Namun, yang pasti memang ada penyedia yang sesekali menawarkan barangnya untuk dijual di lapak ini.

Tumpukan uang jaman dulu yang rapi di lapak Bu Mar.

Yang paling menarik dari sekian banyak lapak-lapak yang menjual barang yang sama, yaitu mata uang jadul. Jejeran uang-uang kertas Bu Mar ditata rapi di dalam sebuah keranjang merah kecil yang sudah tampak usang. Di situ, warna-warni uang kertas dengan beragam ukuran dan nominal bertumpuk rapi. Uang-uang tersebut dibungkus rapi dengan plastik.

Bu Mar mengakui bahwa uang tersebut masih banyak dicari. “Biasanya dicari untuk mahar nikah. Apalagi kalo yang ganjil-ganjil gitu banyak dicari, Mbak,” jelasnya.

Harganya pun bervariasi. Mulai dari Rp 15.000,00 hingga Rp 100.000,00. Harga-harga tersebut divariasikan sesuai dengan jumlah keberadaannya. Semakin langka dan dicari banyak orang, harganya akan semakin mahal.

Bu Mar pun kemudian memperlihatkan satu album miliknya yang berisi uang-uang kertas. Ia menunjukkan uang kertas bergambar tokoh besar bangsa Indonesia, Jenderal Sudirman dan Ir. Soekarno yang banyak dicari itu. Koleksinya cukup lengkap. Sebagian sama dengan yang telah dijajar di kernjang merah tadi. Hanya saja yang di dalam album kondisi uangnya sudah agak rapuh dan usang. Maklum, uang-uang tersebut sudah ada sejak tahun 1950-an bahkan 1930-an.

Lewat Bu Mar dan penjual uang jadul lainnya, sejarah Indonesia seolah terlihat kembali. Gambar-gambar yang tercetak di atasnya memperlihatkan betapa negeri ini sangat menghargai para pahlawannya.  Bagaimana tidak, sebagian besar uang kertas yang dicetak tidak terlepas dari tokoh-tokoh besar Indonesia dari segala daerah dan segala bidang.  Sebut saja Kapitan Pattimura, Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, I Gusti Ngurah Rai, Ki Hajar Dewantara hingga Soeharto, wajahnya pernah menghiasi alat pembayaran kita ini.

Hingga kini, kesemuanya masih diminati. Baik untuk sekadar hiasan maupun untuk koleksi.  “Yang paling mahal tuh yang gambar Sudirman dan Soekarno. Itu banyak yang nyari dan mulai langka,” ucapnya. Ia mematok harga untuk uang tersebut kisaran Rp 75.000,00 ke atas.

Di atas selembar mata uang inilah terukir kebesaran Indonesia. Tokoh-tokoh yang mendunia, yang berjasa untuk berdirinya negara ini tersemat di antara mata uang yang pernah beredar ke sekuruh penjuru negeri ini. Hingga kini, beberapa di antara mereka ada yang masih menghiasi alat pembayaran sah kita ini. Ini tandanya kita masih menghargai mereka sebagai pembangun bangsa ini. Tentunya, di tengah-tengah kerinduan akan tokoh panutan yang masih kita cari-cari saat ini.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s