Nikmat Sakit dan Hikmahnya

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}

Dua minggu yang lalu, saya kaget akan adanya sebuah bintik kecil di ujung kelopak mata sebelah kiri. Awalnya saya mengira itu luka akibat tercakar kuku. Tapi setelah sehari kemudian makin terasa perih dan ketika saya cek di cermin ternyata bintil tersebut seperti berisi cairan.

Rabu, (3/7), ketika mandi ternyata ada juga sebuah bintil di dekat pusar dan di atas pinggul sebelah kiri. Sama seperti bintil di kelopak mata yang bening berisi cairan. Seorang kawan bilang bahwa kemungkinan itu bintil cacar air. Dia tambah yakin ketika tahu saya belum pernah cacar sebelumnya. Emang sih, badan panas dari kemarin.

Kamis, (4/7), ternyata bintil itu bertambah di sekitar tubuh dan lengan. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk periksa ke Puskesmas. Tapi apa yang dokter bilang tidak cukup meyakinkan saya. Dia hanya bilang, “Itu bukan cacar. Itu hanya virus. Percuma saya sebutkan virus apa juga kamu gag bakal ngerti.” Ya jelas aja saya kaget. Kok ada ya dokter kaya gitu. Hari pertama setelah periksa saya bertahan dengan mengoleskan salep dan obat yang dari Puskesmas itu.

Jumat, (5/7), saya amat sangat kaget. Bintil bertambah di sekujur tubuh, wajah, dan leher. Yang kemarin belum ada, tiba-tiba sudah besar entah kapan munculnya. Pagi itu juga saya putuskan untuk segera ke rumah sakit Panti Rapih. Seorang kawan bilang percuma saja ke rumah sakit. Ia masih yakin saya terkena cacar, dan sampai sekarang tidak ada yang bisa mengobati penyakit itu. Menurutnya saya mesti bertahan dengan resep dokter sebelumnya dan bersabar menunggu hingga bintil-bintil itu hilang. Saya gak mau. “Yang penting aku tahu pasti dari mulut dokter aku tuh sebenarnya sakit apa?!” tegas saya.

Jadi deh hari itu, masih dengan badan panas dingin, lemas, dan cemas memasuki Panti Rapih untuk periksa. Dan benar apa yang kawan saya yakini, dokter bilang ini cacar air! Dan emang cacar itu disebabkan oleh virus. Ugh! Saya jadi makin jengkel sama dokter di Puskesmas kemarin! Akhirnya, dari situ saya bisa tau banyak tentang cacar air. Maksudnya, seorang dokter itu khan harus terbuka sama orang awam kayak saya ini. Gak salah ngasih diagnosis, gak pelit informasi juga kaya dokter di Puskesmas itu yang mana salah diagnosis, gag kasih tau pula virus atau bla bla bla. Jadi bikin ngambang, penasaran!

Tentang cacar air

Cacar air adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster yang mengakibatkan munculnya ruam kulit berupa kumpulan bintik-bintik kecil baik berbentuk datar maupun menonjol, melepuh serta berkeropeng dan rasa gatal. Gejala awal si penderita biasanya merasa lemah, lesu, badan panas, kepala pusing. Gejala awal ini sama seperti gejala akan flu. Tapi kemudian timbul bintil-bintil yang menggelembung bening yang berisi cairan di sekujur tubuh, tangan dan atau wajah.

Bintil-bintil ini biasanya menyebabkan rasa panas dan gatal, terlebih jika kita sedang berkeringat. Tapi, sebaiknya jangan digaruk atau dipecahkan karena akan berakibat fatal yaitu luka sulit kering dan bisa menyebabkan infeksi bakteri. Yang lebih parahnya lagi bisa jadi lukanya berbekas, bisa bopeng atau berwarna lebih gelap. Gak mau khan? Apalagi kalo bintilnya di wajah.

Catatan penting untuk penderita cacar air sebaiknya tidak ke luar rumah. Karena udara dapat menyebabkan alergi pada cacar air dan jadi lama sembuhnya. Apalagi jika kondisi udara sedang tidak bagus dan kotor. Selain itu makanan juga perlu diperhatikan. Jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung protein. Tapi yang ini saya agak bingung juga. Dokter menyarankan saya tidak makan telur, tapi daging-dagingan boleh supaya luka cepat kering. Jangan mandi dulu. Kalaupun mau membasuh badan dengan kain/washlap aja. Jangan lupa ditambahkan antibiotic seperti Detol. Saya aja sampai seminggu lebih tidak mandi. Uuppss J

Setelah tujuh hari berlalu, Jumat, (12/7) saya cek kesehatan lagi ke rumah sakit. Bintil di wajah sebagian sudah pecah yang di wajah. Tapi belum semuanya yang di badan. Apalagi ‘babon’-nya yang sudah dulu lahir dari awal cacar ini dan belum pecah-pecah juga. Ugh!

Saat periksa, dokter menyarankan saya untuk tetap menghabiskan obatnya (Acyclovir tablet) dan ditambah dengan amoxilin. “Supaya gak terjadi second infection,” kata Bu Lucia, dokter saya. Benar juga. Ternyata, cacar air tidak berhenti ketika luka-lukanya mongering saja. Bagi orang dewasa yang kekebalan tubuhnya rendah akan ada komplikasi setelah terkena cacar air. Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah Pneumonia karena virus, peradangan jantung, peradangan sendi, peradangan hati, infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa), dan Ensefalitis (infeksi otak). Semoga semuanya tidak terjadi pada saya!

Ya begitulah pengalaman saya saat sakit cacar air. Selama lebih dari 10 hari, saya harus berjuang melawan penyakit cacar ini. Rasa panas dan gatal dari dalam harus saya tahan. Rasa takut atau ngeri terhadap bintil-bintil di sekujur tubuh dan wajah juga harus saya kalahkan.

Gak terasa udah hampir dua minggu lalu. Namun lukanya belum sepenuhnya kering dan pecah lho. Butuh kesabaran, butuh waktu yang lama untuk proses penyembuhan. Kawan-kawan pada bilang “Sabar ya.” Dan itu memang benar. Melawan sakit harus dengan kesabaran. Ini berkah. Harus disyukuri. Nikmati saja. Ketika sembuh, kamu akan rindu masa sakitmu. Bukan maksudnya berharap sakit lagi, melainkan rindu karena betapa waktu cepat berlalu dan kita akan merasa bahagia telah melaluinya dengan penuh kesabaran.

Terima kasih Tuhan, dengan datangnya sakit ini semoga saya lebih menghargai kesehatan, kebersihan, meningkatkan derajat keimanan melalui kesabaran. Intinya bersyukur setiap waktu terhadap apa pun yang Tuhan beri kepada kita. Senyum. Salam-bahagia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s