Waria: Dari Profesi Hingga Prestasi

YOGYA-Senin siang (8/4) saya menuju Proliman, jalan simpang empat di Jalan Yogja-Solo tepatnya traffic light sebelah barat objek wisata Candi Prambanan. Kawasan ini dikenal sebagai tempat mengamennya para waria. Namun tak satu pun waria berada di sana. Justru  hanya ada satu dua pengamen anak jalanan.

Saya kemudian berhenti di sebuah warung yang biasa menjadi tempat istirahatnya para waria. Warung itu tampak sepi. Tak terlihat satu pun pembeli. Bu Bambang, pemilik warung mengatakan bahwa baru saja para waria itu pulang. Padahal jam baru menunjukkan pukul 15.00 WIB.

Dari Bu Bambang, saya mendapatkan informasi tentang tempat tinggal waria Proliman, tepatnya di kampung Sorogenen I, kurang lebih 200m sebelah timur Bandara Adi Sucipto. Memasuki gang sempit, seorang gadis menunjukkan letak rumah Bu Vera, demikian panggilan akrab salah satu pentolan The Wacan, kelompok waria yang beroperasi di daerah Proliman.

Setelah memarkir kendaraan, saya telah disambut oleh seorang pria berdandan ala wanita. Tubuhnya makin terlihat tinggi semampai dengan pakaian dress ungu panjang sepaha yang dikenakannya, stoking hitam panjang dan aksesoris mirip berlian di pinggang, pergelangan tangan, leher dan telinganya.  Rambutnya sebahu hasil rebonding dan berwarna coklat. Ia ramah menyapa dan langsung mempersilakan masuk ke sepetak kamar sewaannya.

Yang Penting Menerima

Vera Indira Dewi, 49 tahun, asal Klaten. Begitulah identitasnya saat ini. Ia tidak menyebutkan nama aslinya. Namun ia bercerita banyak tentang dirinya semasa kecil, pekerjaannya sampai hubungan cintanya dengan seorang laki-laki.

Vera kecil hidup di Palembang bersama kedua orang tua dan tiga kakaknya. Naluri kewanitannya sudah muncul sejak ia kecil. Pada waktu SD, ia lebih memilih bermain kasti bersama teman-teman wanitanya dibandingan bermain sepak bola yang dilakukan teman-teman pria. “Guruku sudah hafal. Kalau olahraga pasti nanyain ‘mau main bola apa kasti?’. Aku jawab ‘kasti’,” jelas pemilik tahi lalat di pipi itu.

Kedua orang tuanya mulai mengetahui sisi kewanitaannya saat Vera kecil menari di atas panggung berdandan wanita. Mulai saat itu orang tuanya mampu memahaminya. “Ya kalau aku boleh pilih, aku gag mau dilahirkan seperti ini. Tapi gimana lagi. Aku dilahirkan sebagai laki-laki. Tapi kaya cuma dititipin raga laki-laki. Aku lebih merasa hatiku ini perempuan,” paparnya secara terbuka. Gerakan dan cara berbicaranya pun gemulai seperti wanita.

Selepas SMA di tahun 1985, ia berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke Akademi Perawatan (Akper). Namun orang tuanya tidak mengijinkan. “Kata mereka kalau aku masuk situ (Akper), nanti aku makin menjadi kaya perempuan. Gag masuk situ aja sudah kaya cewek, apalagi jadi masuk situ,” tambahnya.

Di usia 28 tahun, ia mulai menetap di Yogyakarta secara berpindah dan menekuni profesinya. Di Sorogenen sendiri ia sudah tinggal sejak lima tahun lalu. Tak heran jika semua warga sudah mengenalnya. Baginya yang terpenting adalah penerimaan warga secara terbuka, bukan dengan sebelah mata. Namun ia juga sadar, sebagai warga wajib mentaati norma dan berbuat baik kepada warga.

“Warga sini itu baik-baik. Pernah malam-malam aku digodain sama pemuda desa sebelah yang mabuk. Dipukulin lah itu mereka sama orang sini. Sampai Pak RT bilang ‘jangan ganggu, dia wargaku!’ gitu,” jelasnya.

Tak hanya itu, Vera yang suka memasak, membuka usaha katering dengan memberdayakan tetangga sekitar untuk membantunya mengemas katering. Setiap hari ia harus mengantarkan ke beberapa langganan, termasuk pos polisi sekitar bandara.

Dalam interaksi dengan warga sekitar ia merasa nyaman. Hingga ia dan kawan-kawan pernah dipercaya Dinas Sosial (Dinsos) untuk mengisi pelatihan tentang merias wajah, dan membuat pewangi laundry di 36 kelurahan di Yogyakarta. Berangkat dari situ ia membuka usaha rias pengantin dan menyewakan jasa pernikahan mulai dari pakaian, dekorasi sampai hiburan.

 

Ingin Mandiri

Vera mengaku dirinya sudah ingin berhenti dari rutinitasnya sebagai pengurus Iwayo. Setahun lalu ia berencana tidak mau lagi masuk daftar pengurus Iwayo. Namun, kawan-kawannya masih memercayakannya untuk memegang jabatan sekretaris hingga lima tahun ke depan.

Selama dirinya berada di bawah naungan Iwayo, beberapa hal penting pernah dilakukannya. Ia dan kawan-kawan pernah mengusahakan kartu jalan semacam identitas diri agar dapat memasuki daerah Bali dan bisa digunakan jika ingin bepergian ke luar negeri. “Gak banyak lho yang punya kartu kaya gini. Baru 17 waria yang punya,” ucapnya sambil menunjukkan sebuah kartu identitas mirip KTP berwarna ungu. Melalui kartu itu, ia telah dapat bepergian hingga Singapura.

Saat ditanya tentang keinginan rehat dari dunianya saat ini, Vera mengaku secara perlahan akan meninggalkannya. Untuk mengamen sendiri, dirinya telah membatasi lantaran sibuk akan bisnis dan kegiatan organisasinya.

Mulai sekarang, Vera sudah membuka beberapa usaha untuk kemandiriannya di masa pensiunnya. Ia pun membuka angkringan di sekitaran Seturan. “Aku suruh dua anak jalanan yang ngejalanin usaha itu. Kasihan daripada mereka luntang lantung,” tambahnya.

Vera merasa harus hidup mandiri. Kalau bisa ia juga harus dapat membantu kedua kakaknya yang telah memiliki keluarga masing-masing. Tak jarang ia memberikan sangu kepada keponakan-keponakannya, bahkan menyekolahkan mereka. Bagi dirinya menjadi seorang waria bukan berarti lepas dari hubungan keluarga.

Bagaimanapun juga, Vera ingin dirinya mandiri, tidak hanya mencukupi materi bagi dirinya tetapi juga bisa berguna untuk orang lain. Selain itu, dirinya kini juga menjadi pengajar di Pondok Pesantren Waria di Notoyudan, Gedongtengen, Yogyakarta. Sebagai orang yang beragama, dirinya merasa wajib untuk membantu kawan-kawannya sesama waria untuk lebih mengenal agama. “Aku gak mau main-main kalo untuk urasan agama. Kalo ke masjid, aku gak pakai mukena, aku tetap pakai baju koko. Aku gak mau main-main sama hubungan dengan Allah,” ucapnya.

Pemikirannya tersebut sangat bertolak belakang dengan pandangan masyarakat tentang waria selama ini. Bagi sebagian masyarakat yang tidak mengenal waria, menganggap mereka meyalahi kodrat yang diberikan Tuhan. Sebagian ada pula yang merasa risih karena waria suka menggoda dan berpakaian melebihi wanita pada umumnya. Tak jarang memunculkan rasa takut tatkala mereka sering memaksa orang lain memberikan uang setelah dirinya selesai mengamen.

Contohnya saja Indah, mahasiswi Sastra Nusantara, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku merasa risih saat melihat para waria. “Dandanannya itu lho, riasannya, bajunya juga melebihi cewek biasa,” jelasnya.

Lain halnya dengan alasan yang dikemukakan Nining, mahasiswi Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dirinya merasa takut karena kebanyakan waria yang ditemuinya memiliki wajah yang menurutnya menyeramkan akibat suntikan di wajah dan dadanya.

Di akhir obrolan dengan Vera, ia menuturkan pernah beberapa kali mengikuti syuting untuk tayangan televisi. Pertama kali ia dan seorang kawannya yang juga waria pernah diminta untuk membintangi iklan sebuah minuman ringan. Kali kedua, ia juga diminta untuk menjadi salah satu model dalam video klip grup band /Rif.

“Jangan mau, ah, jadi model kaya gitu. Rugi kita. Dibayar murah, tapi sana yang untung. Khan itu diputer terus di TV,” kisahnya.

Itulah sekelumit kisah dari Vera, waria yang punya banyak profesi dan prestasi. Prestasi yang diraih merupakan buah kerja keras, ketekunan, dan semangat yang tak kenal lelah dalam membangun dirinya menjadi baik di mata masyarakat. Eksistensi ia dan komunitasnya menjadi hal yang patut diperhitungkan untuk diterima baik dalam keragaman masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s