DAUN JATUH TAK MEMBENCI ANGIN

Daun Yang jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Penulis                                 : Tere Liye

Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ke-                        : 2, Oktober 2010

Jumlah Halaman              : 264 halaman

Seperti halnya Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Bidadari-bidadari Surga, maupun Kau, Aku dan Sepucuk Angpau merah, dalam setiap tulisannya Tere Liye selalu membuatku menganggukkan kepala, sepakat pada pesan yang ditulisnya. Seakan menjadi wejangan yang dapat merefleksi pikiran, sebagai pegangan dalam menjalani hidup.

Seperti kalimat yang ditulis Tere Liye di buku ini: “Kebaikan itu seperti pesawat terbang. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan tepat.” (halaman 184).daun yang jatuh tak pernah membenci angin-tere liye

Novel yang akan dibahas pada tulisan ini, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Judul sengaja diambil dari kalimat anonymous The Falling Leaf doesn’t Hate The Wind, yang dipopulerkan dalam film Jepang Zatoichi. Bagi saya judulnya sangat menarik, membuat saya tertarik ingin segera membacanya. Bukan hanya penasaran dengan ceritanya, tapi juga ingin menemukan makna di balik judul itu.

Di sini dikisahkan seorang Tania, gadis cilik yang putus sekolah lantaran ayahnya meninggal. Ia hidup di rumah kardus bersama ibu dan adiknya, Dede. Kesehariannya ia isi dengan mengamen dari bus kota ke bus kota bersama adiknya. Tiba suatu saat, di bus kota itu, pertemuan dengan seseorang terjadi. Pertemuan tak sengaja saat kaki Tania menginjak sebuah paku payung. Dia yang beranjak dari tempat duduknya, mengeluarkan saputangan, membungkus kaki Tania.

Seseorang yang bagai malaikat itu merubah kehidupan Tania, Ibu, dan Dede. Kakak adik itu bisa kembali ke sekolah. Ibu juga lama-lama ikut bangkit dan memiliki usaha kue. Dia juga rajin mengunjungi keluarga kecil itu. Tetapi, di saat kebahagiaan itu mulai muncul, Ibu sakit dan harus berpulang.

Jadilah kini Tania dan Dede tinggal dengannya. Menjalani hidup dengan biasa, apalagi Tania mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan SMP di Singapura, begitu seterusnya sampai masuk Perguruan Tinggi di sana. Kehidupan mereka diceritakan mengalir begitu saja.

Konflik batin dalam novel ini bersumber pada Tania. Tania yang tumbuh sempurna menjadi remaja, semakin tak kuasa membendung rasa cintanya pada dia. Tetapi ia tak pernah mengatakannya. Bahwa tak pantas ia mencintai malaikat keluarganya, apalagi dia hanya menganggap Tania sebagai adiknya, tidak lebih.

Akankah suatu saat Tania mengatakannya? Atau jangan-jangan orang sedewasa dia telah lama membaca perasaan Tania. Jawabannya diungkap secara teratur dalam novel ini. Bahasanya yang khas, mudah, menarik dan selipan humor menjadikan buku ini lebih hidup.

Nilai tema yang disuguhkan sangat umum, bahwa hidup semanis atau sepahit apapun harus kita terima. Namun, diungkapkan penulis dengan berbeda: beda kisah, beda konflik, beda pengungkapan.

Saya menyukai sampulnya. Warna hijau muda sebagai dasar, dan sehelai daun berwarna matang. So simple. Oh ya, buku yang saya punya ini cetakan Oktober 2010. Merupakan cetakan kedua sejak bulan Juni di tahun yang sama. Jadi, untuk apa menunggu lama untuk mulai membacanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s