Rahasia Berbungkus Amplop Merah

 

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Penulis           : Tere Liye

Penerbit         : Gramedia, Jakarta

Cetakan         : I, Januari 2012

Tebal              : 507 halaman

 

 

Masih ingatkah pada Delisa yang ikut menelan kesedihan lantaran ibu dan saudara-saudaranya tertelan tsunami Aceh? Juga pada Reyhan yang menemukan kenyataan di balik pencariannya atas segala rasa kehilangannya? Masih hangat juga di ingatan kita tentang pengorbanan lahir batin seorang kakak demi pendidikan keempat adik-adiknya. Itulah sepintas cerita dalam goresan pena Tere Liye yang tertuang dalam karyanya yang menyentuh, Hafalan Surat Delisa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan Bidadari-Bidadari Surga.

Dalam novelnya kali ini, Tere Liye menggambarkan kesederhanaan cerita cinta di tengah miliaran cerita cinta yang dialami miliaran manusia. Bagaimana cara cinta itu datang, bagaimana saat cinta pergi, termasuk perjuangan dalam menggapai cinta sejati, terangkum secara sederhana dalam novel ini. Romantis, barangkali begitulah kesan setela h membaca novel ini

Borno, begitu namanya. Ia tinggal di tepian Sungai Kapuas. Ayahnya yang seorang nelayan, meninggal karena tersengat ubur-ubur. Sebelum meninggal, sang ayah rela mendonorkan jantungnya untuk orang lain. Borno kecil marah, tidak menerima kematian ayahnya ini dengan melihat dada ayahnya yang terbelah.

Selepas SMA, ia harus mencari pekerjaan demi membantu ibunya. Berbagai macam pekerjaan ia tekuni. Namu tidak ada satupun yang menggembirakan baginya dan bagi orang lain di lingkungannya. Akhirnya setelah bertimbang dengan Pak Tua, sahabat orang tuanya dan yang juga menjadi guru kehidupan baginya, Borno memutuskan untuk menjadi pengemudi sepit. Pekerjaan barunya mendapat tanggapan baik dari lingkungannya. Bahkan Bang Togar, yang ditakuti Borno, melunak hatinya. Ia mengumpulkan uang para tetangga dan membelikan Borno sebuah sepit.

Di hari pertamanya bekerja sebagai pengemudi sepit, menumpanglah seorang gadis jelita. Selepasnya Borno mengantarkan gadis itu ke tujuan, dilihatnya sebuah amplop merah di atas sepitnya persis di dekat gadis tadi duduk. Dari sinilah semua cerita berawal. Dari sepucuk amplop merah.

Diambilnya amplop itu dengan pikirnya akan mengembalikan keempunya. Tetapi dasar Borno. Dekat-dekat gadis itu saja sudah membuatnya salah tingkah hingga tak ada keberanian untuk berbicara. Jangankan menegur gadis itu, menatapnya pun ia tak sanggup. Jadilah sekian lama amplop itu urung diberikannya.

Waktu jualah yang memperkenalkan Borno dengan Mei, pemilik amplop merah itu. Dari situ jalinan kisah mereka diukirkan Tere Liye dengan sederhana. Cinta yang berjarak, Mei yang tiba-tiba menjauhi Borno, tetapi kemudian datang dan pergi lagi. Mei yang memulai, dan Mei pula yang harus menyelesaikannya. Amplop merah menjadi jawaban segala sikapnya.

Membaca novel ini tidak ingin terputus, selalu dibuat penasaran oleh kisah dalam halaman selanjutnya. Mendengar petuah cinta Pak Tua, membayangkan irama sepit yang melaju di atas Kapuas, gereget pada Borno yang diam seribu bahasa di depan Mei, pun timbul perasaan marah pada Mei yang terkesan ‘menggantung’ cinta Borno.

Lewat novel bersampul merah dengan gadis berpayung ini, Tere Liye mampu memasukkan nasehat cintanya. Bahwa cinta adalah perbuatan. Cinta  bukan kalimat gombal, cinta dalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka. Kalimat demi kalimat mudah dipahami, ditambah dengan gurauan antar sahabat yang kocak nan renyah, maupun kejadian-kejadian konyol yang mampu menghibur pembaca.

Dapatkah Borno mengembalikan amplop merah tersebut pada si pemiliknya? Apa isi sebenarnya amplop merah yang sengaja ditinggalkan Mei di sepit Borno itu? Sanggupkah Borno memaafkan Mei dan keluarganya? Mampukah Borno menghadapi satpam rumah Mei yang galak? Semua terjawab secara teratur dan tak terduga dalam novel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s