Apresiasi dan Kajian Puisi: Menentukan Citraan dan Rima

Pesona Rahasia

Tembang itu dilantunkan tanpa suara

Dalam sebuah konser sunyi

Tapi rumpun ilalang seperti mendengar

Tembang itu aturannya

Tak boleh didengar telinga

Agar daun-daun rahasia

Semakin memancarkan pesona

 1.      Citraan

Citraan dalam puisi merupakan pengimajinasian, gambaran angan yang muncul di dalam benak pembaca tentang sesuatu yang digambarkan pengarang melebihi apa yang tertulis. Citraan tergantung dari pengalaman dan atau pengetahuan pembaca. Citraan yang terdapat pada puisi Pesona Rahasia di atas yakni:

–           Pendengaran

Pada bait pertama puisi di atas memberikan citraan pendengaran: Tembang itu dilantunkan tanpa suara/Dalam sebuah konser sunyi. Pengarang menyebutkan suara tembang namun menguraikannya dalam kesunyian. Baris tersebut merangsang indera pendengeran untuk membayangkan bagaimana sebuah lagu yang dinyanyikan tanpa suara.

Citra pendengaran juga dimunculkan pada bait 2: Tembang itu aturannya/Tak boleh didengar telinga.

–          Pemikiran

Dalam bait ke-2 puisi di atas muncul citraan pemikiran yang berada dalam dua baris terakhir: Agar daun-daun rahasia/Semakin memancarkan pesona. Citraan pemikiran atau intelektual muncul dibenak pembaca karena merangsang pikiran untuk membayangkan bagaimana pesona tersebut memancar dari daun-daun. Padahal, pesona itu abstrak dan tidak dapat dilihat mata.

2.      Rima

  1. Rima berdasarkan bunyi
  • Asonansi (persamaan vokal)

Tembang itu aturannya

Tak boleh didengar telinga

 

  • Desonansi (perlawanan vokal)

Tembang itu dilantunkan tanpa suara (bait pertama, baris 1)

Tak boleh didengar telinga (bait ke-dua, baris 2)

Tak boleh didengar telinga (bait ke-dua, baris 2)

Semakin memancarkan pesona (bait ke-dua, baris 4)

 

  • Akonsonansi (persamaan konsonan tengah dan atau akhir)

Dalam sebuah konser sunyi (bait pertama, baris 2)

Tapi rumpun ilalang seperti mendengar (bait pertama, baris 3)

Semakin memancarkan pesona (baris ke-dua, baris 4)

Agar daun-daun rahasia (bait ke-dua, baris 3)

2. Rima berdasarkan letak dalam kata

  • Rima tidak sempurna (sebagian suku kata akhir yang sama)

Tembang itu dilantunkan tanpa suara (bait pertama, baris 1)

Tapi rumpun ilalang seperti mendengar (bait pertama, baris 3)

3. Rima berdasarkan letaknya dalam baris

  • Rima awal

Terdapat pada awal bait pertama dan awal bait ke-dua.

4. Rima berdasarkan rumus akhir

  • Sama

Bait ke-dua dalam puisi di atas memiliki rima sama, yaitu berumus a-a-a-a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s