Pers, Medan Perang Ki Hajar Dewantara

 

“Andai aku seorang Nederlander, tidaklah aku akan merayakan pesta kemerdekaan bangsaku di negeri yang rakyatnya tidak kita beri kemerdekaan. Sesuai dengan laku pikiranku itu maka sesungguhnya tidak saja tidak adil, namun tidak patut pula rakyat di negeri ini kita mintai bantuan uang guna membiayai pesta-pesta itu.” (Ki Hajar Dewantara)

Itulah sebait kalimat Ki Hajar Dewantara (KHD) yang ditulisnya dalam tulisan yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan yang dimuat dalam surat kabar De Express milik sahabatnya, Douwes Dekker (D.D.), itu tajam mengkritik Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Menurutnya sangat tidak layak jika penjajah berpesta di atas negeri jajahannya dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan mereka.

Sebagai akibat dari tulisannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jenderal Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan kepada KHD. Sebuah hukuman buang. Bersama dengan dua sahabatnya, D.D dan Cipto Mangunkusumo, ia meminta diasingkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913.

Masa pembuangan mengharuskan ia dan istrinya, Raden Ayu Sutartinah (kelak menjadi Nyi Hajar Dewantara) hidup seadanya. Dalam Rahardjo (2009: 16) ditulis bahwa bantuan biaya hidup dari pihak kolonial yang hanya untuk satu orang terpaksa dihemat untuk berdua. Keterbatasan ini membuat KHD harus bekerja sebagai jurnalis guru Taman Kanak-kanak guna menunjang kebutuhan hidup sekaligus menabung biaya pulang ke tanah air.

Perjuangan Lewat Tulisan

Dunia tulis-menulis memang tidak asing bagi KHD. Setelah dirinya dikeluarkan dari STOVIA kemudian bekerja menjadi analis di pabrik gula Kalibagor, Banyumas. Di situ ia mengenal dan mempelajari kehidupan buruh pabrik. Ia melihat adanya penghisapan majikan terhadap para buruh pabrik. Kemudian ia menuliskannya dalam bentuk artikel yang dikirimkannya ke surat kabar Midden Java, yang pada masa  itu terbit di Jawa Tengah. Melihat bakat menulisnya tersebut, D.D menawarinya unuk membantu memimpin majalah Her Tijdschrift dan harian De Express di Bandung. Saat itu bidang jurnalistik dan politik adalah babak baru baginya.

Di Belanda pun, saat dalam pengasingannya KHD memperdalam pengetahuannya dalam hal jurnalistik pada S. de Roode, pemimpin surat kabar De Nieuwe Groene (Tauchid, 2011:15). Sembari menunggu kepulangannya yang tertunda karena Perang Dunia I, KHD mendirikan kantor berita dengan nama Indische Persbureau di Den Haag sebagai pusat pemberitaan untuk Indonesia. Inilah kali pertama nama Indonesia dikenal dunia melalui kancah jurnalistik.

Selepas hukuman buang, kembali ia menekuni dunia jurnalistik di tanah air. Tak jera KHD kembali ke medan perang melalui tulisan-tulisannya yang mengecam kekuasaan kolonial. Sambil menyelam minum air. Barangkali itulah peribahasa yang pas bagi sepak terjang  KHD dalam kancah politik. Tauchid (2011: 17) menulis sembari menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar partai National Indische Partij (NIP), KHD tetap menerjunkan diri dalam majalah partainya dengan masuk menjadi dewan redaksi De Beweging.

Karena ketajaman pembicaraan dan tulisannya yang mengecam kekuasaan kolonial, selama di Semarang, dua kali KHD masuk penjara. Penahanannya selama 6 bulan dikarenakan pidatonya  dianggap menghina pemerintah Belanda. KHD mengatakan dalam pidatonya bahwa Mahkamah Agung (Hogerechttschoft) sebagai badan yang bukan sembarangan, yang berkewajiban melindungi keadilan dan hukum, nyatanya bahkan berbuat semau-maunya sendiri, sewenang-wenang menginjak-injak keadilan. Dalam masa tahanan, KHD harus mengalami siksaan yang berat dikumpulkan dengan penjahat-penjahat biasa (Raharjo, 2009).

Penahanan selama 3 bulan dijatuhi kepada KHD pada Agustus 1920 karena kepedasan kritiknya di surat-surat kabar yang ditujukan Pemerintah Belanda. Untuk pertama kalinya pers-delict (ranjau pers) di Indonesia dikenakan kepada KHD. Bagi KHD, tidak ada yang perlu ditakuti dalam menyampaikan kritik kepada orang lain. Khususnya bagi pemerintah kolonial. Baginya kritik melalui tulisan merupakan alat perjuangan dalam menentang penindasan yang dilakukan Belanda.

Ada sebuah peran yang coba disematkan KHD lewat kewartawanan. KHD yang lekat dengan pendidikan mencoba menggunakan media massa untuk berperan dalam pencerdasan masyarakat. Pada Oktober 1928 terbitlah majalah pendidikan Wasita. Majalah yang diterbitkan oleh Tamansiswa Yogyakarta ini mengusung citra sebagai majalah untuk kaum pendidik dan orang tua dengan tujuannya untuk memberikan informasi kepada orang-orang yang bergelut dalam bidang pendidikan dan orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah.

Dalam  majalah ini KHD banyak menuliskan gagasannya tentang pengajaran dan pendidikan. Logika berpikirnya relatif sederhana: jika rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas sehingga keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi. Gagasan-gagasan yang ia tulis seakan mampu menjadi pencerah bagi masyarakat pribumi untuk bergerak melepaskan diri dari ketertinggalan dan ketertindasan. Dengan demikian, media massa memiliki kekuatan penyemangat bagi masyarakat untuk melakukan hal-hal yang berguna. Hal ini jelas menunjukkan kuatnya cita-cita kemerdekaan atau pemerintahan sendiri dari redaksi Wasita yang salah satunya adalah KHD (Rahardjo, 2009:30). Begitulah KHD, berjuang lewat tulisan untuk mengupayakan kemerdekaan bagi negeri yang dicintainya. Tulisannya yang tajam menggelitik pemerintah Belanda, gagasan-gagasannya yang mampu membangkitkan semangat pergerakan nasional. Atas jasanya itu, dua hari setelah KHD wafat, tepatnya 28 April 1959, ia diangkat menjadi Ketua Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) secara anumerta.

Bebas Bertanggungjawab

Keberaniannya dalam mengkritik pemerintahan kolonial membuktikan bahwa KHD menginginkan adanya kebebasan diri. Prinsip kemerdekaan diri menurutnya merupakan hal utama dalam mencapai cita-cita hidup salam bahagia dan masyarakat tertib-damai. Prinsip KHD inilah yang sampai saat ini terus diamalkan dalam asas Tamansiswa. Melalui tulisan-tulisannya ia mengajarkan tentang kemerdekaan diri dalam mengemukakan pendapat.

Bagi KHD, tulis Sugiarto (2008: 11) pers bukanlah alat pemerintah, tetapi lebih sebagai suatu cara untuk mengemukakan bukti-bukti serta pendapat. Memandang setiap orang bebas untuk memberikan pendapat mengenai pers dan juga memiliki hak untuk berbicara melalui pers. Menurut KHD, kebebasan diri menjadi senjata yang kuat untuk berjuang, menanamkan rasa harga diri pada bangsa yang dijajah untuk mencapai kemerdekaannya.

Kebebasan yang ditanamkan KHD dilandasi dengan tanggung jawab yang secara sadar dilaksanakan. Sebagai rasa tanggung jawab atas kritikannya, KHD rela mendapat kecaman dari pemerintah Belanda, menghadapi hukuman buang dan tahanan. Hal ini yang coba ingin ditunjukkan KHD. Dalam dunia jurnalistik, tidak ada yang salah. Tidak ada pembungkaman yang mematikan pemikiran orang. Kebebasan dan kemerdekaan adalah hak tiap-tiap orang, untuk mencapai hidup yang selamat lagi bahagia. Namun, kemerdekaan diri seseorang harus mengakui hak kemerdekaan orang lain. Tidak boleh kita menindas perasaan orang lain. “Dan yang demikian itu aku tidak suka dan memang tidak boleh. Sebab seandainya aku orang Belanda, aku tidak akan melukai perasaan rakyat Indonesia,” lanjut KHD dalam tulisannya Seandainya Aku Seorang Belanda.

 

Sumber :

Ki Sutikno & Ki Sunarno HD. 2011. Ketamansiswaan untuk Pamong, Karyawan, dan Mahasiswa. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa: Yogyakarta.

Rahardjo, Suparto. 2009. Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959. Garasi:Yogyakarta.

Sugiarto, Ryan. 2008. Mengenal Pers Indonesia. Pustaka Insan Madani: Yogyakarta.

Tauchid, Muchammad. 2011. Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hadjar Dewantara. Majelis Luhur Taman Siswa: Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s