Membangun Karakter Bangsa Melalui Bahasa dan Sastra Indonesia

 

Tulisan ini sengaja saya buat untuk merangkum seminar nasionalyang saya ikuti, Kamis, 29 November 2012. Judul tulisan ini sekaligus merupakan tema seminar tersebut. Pembicaranya menghadirkan Dr. Agus Maladi, M.A (Dekan FIB UNDIP), Edi Setiyanto (Perwakilan Balai Bahasa Yogyakarta), dan dosen saya sendiri Drs. Sudartomo Macaryus, M.Hum.

Pembicara pertama, Bapak Agus mengusung pembicara  lewat power point yang diberi judul Optimalisasi Peran Generasi Muda: Antara Kepraktisan Global dan Kearifan Lokal. Beliau membaca Indonesia saat ini yang masyarakatnya telah masuk ke dalam budaya konsumtif. Konsumerisme hasil globalisasi dan kapitalisme ekonomi serta tayangan iklan lewat televisi maupun baliho-baliho di jalanan.

Pengaruh globalisasi ekonomi tersebut berpengaruh pula pada pemuda Indonesia yang terhanyut dalam sikap konsumtif. Pemuda saat ini: menghabiskan waktu di mall-mall, berjam-jam tersihir acara-acara di televisi, merasa hebat saat nongkrong di resto-resto mahal cepat saji, dan berlomba-lomba untuk tampil cantik, me wah wah!

Apakah itu identitas bangsa kita saat ini? Inikah hasil yang ingin dicapai setelah adanya reformasi 14 tahun silam? Globalisasi memang tidak bisa dihindari. Namun kita juga tidak bisa menerimanya begitu saja.

Pembicara kedua, Bapak Edi Setiyanto, dari Balai Bahasa memaparkan adanya hubungan antara bahasa dan karakter manusia. Bahasa merupakan wujud dari kebudayaan manusia yang turut membentuk karakter masyarakat. Karakter tersebut dibentuk secara tidak langsiung. Bahasa merupakan sebuah sistem, oleh karenanya bahasa memiliki struktur-struktur yang harus ditaati dalam lisan maupun tulisan. Adanya struktur tersebut secara langsung memang membentuk disiplin. Secara hakiki, kedisiplinan tersebut meliputi disiplin struktur, sosial, dan komunal.

Sedangkan Kemendikbud merumuskan 18 watak sebagai karakter bangsa, yaitu religius, jujur, toleransif, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semagat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Karakter yang secara langsung terbangun dalam pembelajaran bahasa adalah kedisiplinan dan kekomunikatifan.

Namun, dua karakter tersebut nampaknya mustahil untuk tercipta karena kebanyakan orang lebih memilih bahasa yang keinggris-inggrisan, seperti untuk pengucapan mall, counter, franchise, ataupun stake holder. Padahal padanannya dalam Bahasa Indonesia tersedia, yaitu pusat perbelanjaan, gerai, waralaba, dan pemangku kepentingan. Selain itu munculnya bahasa alay juga mempengaruhi mandeknya pencapaian karakter tersebut. Setidaknya, karakter yang mereka ciptakan bertentangan dengan 18 karakter yang dirumuskan Kemendikbud di atas. Pemilihan bahasa yang keinggris-inggrisan bertentangan dengan karakter kesepuluh, yaitu semangat kebangsaan. Sedangkan pemakaian bahasa alay bertentangan dengan karakter ketiga belas, yaitu bersahabat/komunikatif.

Pembicara ketiga, Drs. Sudartomo Macaryus, M.Hum memulai pembicaraannya  tentang daya bahasa dan sastra dan perspektif pemelajarannya. Bahasa, menurutnya memiliki kekuatan untuk merubah sosial. Sastra pun demikian, meskipun tidak secara langsung. Memetik perkataan Herbert Marcuse, tulis Sudartomo dalam makalahnya, seni (termasuk sastra) tidak dapat mengubah dunia, tetapi seni dapat menyumbang dengan mengubah kesadaran dan menggerakkan manusia yang dapat mengubah dunia. Sebagai produk kreatif yang berjiwa, sastra tercipta dari imajinasi yang jujur, penuh simpati, kekaguman, dan atau ketragisan. Seni dengan karakter tersebut memiliki daya dan sanggup mengubah, menggerakkan, dan menjiwai manusia untuk melakukan perubahan. Pesan dalam karya sastra diyakini sampai kepada masyarakat jika dibaca. Namun, masih rendahnya minat baca dalam masyarakat kita menjadi kendala yang menghambat penyampaian pesan tersebut. Menurut pembicara, hal ini dapat diminimalkan dengan mengadaptasikan sebuah karya sastra menjadi seni pertunjukan yang memadukan unsur verbal dan nonverbal. Contohnya pada novel Ayat-Ayat Cinta yang telah diadaptasikan ke dalam film layar lebar.

Masih menurut pembicara ketiga, pemelajaran integrasi antara bahasa dengan mata pelajaran yang lainnya memungkinkan untuk dikembangkan. Hal ini agar pembelajar dapat berekspresi dengan memanfaatkan potensi bahasa untuk membangun gerak, harmoni, dan kesederhanaan pesan. Saya jadi teringat usulan salah satu dosen saya ketika mengajar. Kita dapat memasukkan mengintegralkan pelajaran bahasa dengan IPA, misalnya mempelajari pembuatan laporan dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk bekal penulisan laporan penelitian di mata pelajaran IPA. Demikian, semoga pengajar Bahasa Indonesia dapat memaksimalkan pengajarannya kepada siswa untuk ikut andil dalam pembangunan karakter siswa-siswanya. Tentunya karakter yang baik dan arif di tengah-tengah modernisasi karya dan pikiran saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s