Mana Kuat

Munduk, 3 Agustus 2012.

Hari berlalu sangat cepatnya di sini. Udara masih sangat dingin, tapi sudah harus beranjak dari tempat tidur. Hari ini sudah janji akan menjemput keluarga Chatellier pukul 09.00 wita di Meme Surung. Rencana hari ini kami akan berjalan-jalan sekitar Munduk ditemani Bli Kadek, pemuda setempat. Sengaja mengajak Bli karena saya belum hafal jalan sekitar desa. Kami memutuskan untuk mengunjungi air terjun di dalam hutan kampung. Kira-kira satu jam perjalanan dari tempat kami menginap. Hmmm jauh juga, pikir saya. Jalan kaki pula.

Ada yang terlupa. Saya jadi merasa bersalah ketika si Ibu memakai wedges berukuran kurang lebih 7cm saat itu. Seharusnya sebelumnya saya mengingatkannya untuk memakai sneaker saja, karena medan yang akan dilalui cukup berbukit dan terjal. Tapi sepertinya dia enjoy saja. Meskipun kalo naik atau turun selalu dibantu oleh suaminya untuk berpegangan.

Hal yang menarik saat diperjalanan adalah begitu banyak pepohonan yang kami temui. Diantaranya yaitu pohon cengkeh, vanili, kakao, lada, dan juga salak. Gag heran deh kalo si Ibu dan anak perempuannya foto pohon-pohon itu sana-sini. Membuat perjalanan kami sesekali terhenti. Di sepanjang perjalanan itu juga kami bertemu dengan pemetik cengkeh, karena kebetulan saat itu sedang panen cengkeh. Dan yang paling mengejutkan adalah saat kami sampai di daerah tertinggi, kami didahului oleh beberapa ibu-ibu yang menyunggi cengkeh di kepalanya.

“Elles prenent 30 kilos de girouffler sur la tete,” kata saya pada mereka. Sontak mereka berempat bilang “wow” bahkan si Bapak berkomentar kalo dia bisa juga membawa cengkeh seperti itu di atas kepalanya. Kami tidak percaya. Ha ha ha…

Setelah mengunjungi air terjun pertama, kami lanjut ke tujuan berikutnya. Air terjun kedua. Medannya ternyata lebih berat lagi. Jalannya lebih menanjak. Bahkan berundak-undak. Tapi itu semua gak membantu. Saya yang sedang puasa merasa amat sangat terbebani. Gimana bisa kuat. Sahur ajha gak doyan makan nasi, Cuma minum air, jarang olahraga, dan gak suka naik gunung pula. Jadi deh mata saya berkunang-kunang. Kami sempat berhenti 20 menit. Menghindari pingsan, saya langsung membatalkan puasa dengan minum.

“Vous aimez du sucre? Ajouter sucre dans le the ou café? Ou le miel?” Tanya si Bapak.

“Moi, je l’aime. Mais pendant le Ramadan, je ne manges pas beaucoup du sucre,” jawab saya sambil terengah-engah.

Karena sempat beberapa kali berhenti, mereka menawarkan untuk menggotong saya. Oh, tidak… !!

Dengan semangat yang tersisa, saya tetap melanjutkan perjalanan dengan mereka. Sampai tiba di air terjun ke dua. Sembari menunggu mereka berfoto atau menikmati air terjun, saya beristirahat saja lah.

Untungnya perjalanan pulang tidak begitu merepotkan. Medannya lebih mudah dari sebelumnya. Bahkan kami sempat bertemu dengan beberapa rombongan yang juga ingin mengunjungi air terjun. Tapi bedanya mereka mengambil jalur yang berbeda dengan kami. Maksudnya jalur pulang bagi kami, dipakai mereka untuk memulai perjalanan. Satu kesimpulan yang saya ambil adalah akan lebih mudah memulai perjalanan ke air terjun melalui rute kepulangan, karena medannya tidak begitu terjal dan tinggi. Sehingga rute pulang menuruni jalan berundak yang sangat amat melelahkan saya tadi. Hmm… jadi pelajaran lah untuk ke depannya. Dan satu kesimpulan lagi: banyak mengkonsumsi gula atau sesuatu yang manis, dan berolahraga🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s