Plagiat Chairil Anwar

Nama Chairil Anwar tidak dapat kita pisahkan dari ikon Angkatan ’45. Karya-karyanya yang penting dibukukan orang setelah  ia meninggal, yaitu kumpulan sajak Kerikil Tajam dan yang Terempas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950), Aku Ini Binatang Jalang (1986), dan Derai-Derai Cemara (1999). Kepenyairannya telah dibahas oleh sejumlah pakar seperti S.Takdir Alisjahbana, Boen S. Oemarjati, Subagio Sastrowordoyo, Dick Hartoko, dan Arief Budiman. Karena namanya yang harum di dunia sastra, tercatat juga bahwa tanggal meninggalnya sering diperingati orang dengan sebutan Hari Chairil Anwar yang biasanya diisi dengan berbagai kegiatan kesastraan.

Sejumlah puisi-puisinya telah banyak dikenal baik oleh masyarakat umum maupun masyarakat sastra, seperti Aku, dan Krawang-Bekasi. Namun sayang, di antara kebesaran namanya dalam sejarah sastra Indonesia, Chairil harus menanggung tuduhan orang yang menyatakan dirinya sebagai plagiat.

Majalah Mimbar Indonesia menuliskan bahwa Chairil melakukan plagiat pada beberapa karyanya. Diberitakan bahwa sajaknya yang berjudul Datang Dara Hilang Dara merupakan hasil palgiat dari sajak Hsu Chih Mo yang berjudul A song of the sea. Tidak hanya itu saja yang ia contoh, tetapi juga banyak sajak-sajak lain seperti Karawang-Bekasi yang diambil dari sajak Archibald MacLeish yang berjudul The young dead soldiers. Demikian juga dengan sajaknya  Kepada Peminta-minta, Rumahku, dan lain-lain. Peristiwa itu sangat mengejutkan dunia sastra Indonesia sehingga timbul polemik antara yang menyerang dan mempertahankan Chairil.

Bagi HB Jassin menurut Seno Gumira Ajidarma, tuduhan semacam itu memiliki alasan dan tujuan etis, yakni bahwa plagiarisme merupakan penipuan tidak bermoral, dan barangkali karena itu lantas seluruh karya Chairil Anwar kehilangan kesahihannya. Atas tuduhan semacam itu, HB Jassin membelokkan perkara dari masalah moral kepada masalah sastra, yakni bahwa kredibilitas Chairil Anwar sebagai penyair ditentukan oleh kreativitas sastranya, bukan oleh pertimbangan moralnya ketika melakukan tindakan yang membuat sebagian karyanya disebut plagiat. Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa tindakan Chairil Anwar tidak cukup tepat dianggap plagiasi. Ia bukanlah penjiplak buta (copy cat). Ia hanya mengambil ”inti cahaya” bacaan-bacaan besar yang berbahasa Inggris dan ”menyinarinya” ke dalam bahasa Indonesia. Tentu saja itu sebentuk kreativitas.

Meskipun pembelaan kawan-kawannya terdekat seperti Jassin, Asrul Sani dan lain-lain tak dapat menutupi kenyataan perbuatan chairil yang keji itu, namun orang pun tidak pula bisa membantah peranan dan jasa Chairil dalam sejarah sastra Indonesia. Sajak-sajaknya telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa di dunia. Bahkan telah terbit sebuah buku yang memuat tulisan tentang Chairil Anwar yang di sertai dengan 35 terjemahan sajaknya. Buku itu berjudul Selected Poems (of) Chairil Anwar. Buku tersebut di terbitkan sebagai salah satu nomor dari The world Poets series (seri penyair Dunia). Menurut H.B. Jassin, dalam jangka waktu tujuh tahun masa berkarya tersebut, Chairil menghasilkan sekitar 94 karya. H.B. Jassin mengategorikannya dalam tiga jenis karya. Yakni, karya saduran (4 sajak), karya terjemahan (10 sajak, 4 prosa), dan karya asli (70 sajak, 6 prosa).

Salah satu karya plagiat Chairil yang paling legendaris adalah puisi Karawang-Bekasi. Ada beberapa bait yang mirip (saduran) dengan puisi The Young Dead Soldiers. Berikut beberapa bait yang mirip itu.

(-) Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami?

(+) Nevertheless they are heard in the still houses: who has not heard them?

(-) Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

(+) They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.

(-) Kami mati muda.Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.

(+) They say, We were young. We have died. Remember us.

(-) Kami sudah coba apa yang kami bisa

(+) They say, We have done what we could but until it isfinished it is not done.

(-) Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

(+) They say, We have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.

 

Berikut kedua puisi tersebut🙂

KARAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

 

THE YOUNG DEAD SOLDIERS DO NOT SPEAK

Nevertheless they are heard in the still houses:

who has not heard them?

They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.

They say, we were young. We have died. Remember us.

They say, we have done what we could but until it is finished it is not done.

They say, we have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.

They say, our deaths are not ours: they are yours: they will mean what you make them.

They say, whether our lives and our deaths were for peace and a new hope or for nothing we cannot say: it is you who must say this.

They say, we leave you our deaths:

give them their meaning:

give them an end to the war and a true peace:

give them a victory that ends the war and a peace afterwards:

give them their meaning.

We were young, they say.

We have died. Remember us.

Archibald MacLeish (1941)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s