Analisis dan Kajian Prosa Fiksi

NILAI-NILAI KEARIFAN

DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA

KARYA TERE-LIYE: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

 

Oleh : Ika Herdinawati

 

A.    Pendahuluan

Dewasa ini, nilai-nilai kemanusiaan sudah menjadi hal yang langka dalam praktik kehidupan sehari-hari. Masyarakat telah terjerumus ke dalam kehidupan yang mementingkan keduniawian, terjebak dalam sikap hidup hedonisme. Ketidakhirauan teradap nilai-nilai kemanusiaan tersebut terjadi dalam segala bidang ; sosial budaya, maupun agama. Ketidakhirauan masyarakat pada nilai-nilai kemanusiaan itu menyebabkan kebobrokan hidup, makin mahalnya kearifan, dan makin jauhnya kebahagiaan.

Novel Bidadari-Bidadari Surga (selanjutnya penulis singkat BBS) menyajikan beragam nilai kearifan dalam setiap tokohnya. Dalam BBS, pengarang bermaksud untuk menampilkan nilai-nilai kearifan setiap tokoh agar pembaca dapat belajar, merenungkan kembali, dan memetik hikmah dari setiap peristiwa yang tersaji di dalamnya.

Dalam BBS, pengarang menampilkan berbagai tokoh dengan sifatnya, namun juga menorehkan sikap-sikap arif dalam kehidupan. Misalnya tokoh Laisa. Sebagai tokoh utama, ia digambarkan sebagai perempuan yang bertanggung jawab pada adik-adiknya, ikhlas menerima takdir Tuhan, selalu hidup dalam kesederhanaan. Begitu pula tokoh-tokoh lain yang selalu memegang prinsip bekerja keras untuk mencapai cita-cita dan menghargai satu sama lain.

B.     Kajian Sosiologi Sastra

Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya.

Sebagai cerminan masyarakat, karya sastra mengungkapkan gejala sosial masyarakat di mana dalam karya sastra akan terkandung nilai moral, politik, pendidikan, dan agama dalam sebuah masyarakat. Salah satu nilai moral yang terkandung dalam BBS adalah nilai kebijaksanaan atau kearifan dari setiap tokoh yang ditampilkannya. Karena keterbatasan paper ini, penulis hanya akan memaparkan nilai kearifan yang ditampilkan oleh tokoh utama.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam analisis novel BBS, teori sosiologi yang dipergunakan adalah teori tentang nilai sosial. Adapun yang dianalisis adalah bagian teks BBS, khususnya dalam sikap tokoh utama, Laisa, yang menyangkut tentang teori yang dipakai.

C.    Nilai Sosial Masyarakat

Nilai erat kaitannya dengan manusia, baik dalam bidang etika yang mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari, maupun bidang estetika yang berhubungan dengan persoalan keindahan, bahkan nilai masuk ketika manusia memahami agama dan keyakinan beragama (Setiadi, 2006:105). Oleh karena itu nilai berhubungan dengan sikap seseorang sebagai warga masyarakat, warga suatu bangsa, sebagai pemeluk suatu agama, dan sebagai warga dunia.

Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan (Depdikbud, 1990: 615). Menurut Mardiatmaja via Sumaryono, nilai menunjuk pada sikap orang terhadap sesuatu hal yang baik. Nilai-nilai dapat saling berkaitan membentuk suatu sistem dan antara satu dengan yang lain koheren dan mempengaruhi segi kehidupan manusia. Nilai-nilai itu telah ada dalam diri setiap manusia. Dalam proses kehidupan, nilai-nilai itu disadari, diidentifikasi, diserap, dan dimiliki untuk kemudian dikembangkan dan diamalkan.

Sedangkan kearifan, dalam Bahasa Inggris berarti wisdom, memiliki arti yang sama dengan kebijaksanaan. Dengan demikian, nilai kearifan dapat diartikan sebagai suatu sikap bijaksana yang dipandang baik oleh masyarakat dan menjadi panutan oleh anggota masyarakat.

D.    Sinopsis BBS

Laisa dan keempat adiknya hidup tanpa ayah sedari kecil. Mereka hidup dengan sederhana, dan untuk mencari makan mereka harus sering membantu Mamak di ladang. Kondisi mereka yang kurang membuat Laisa mengorbankan diri untuk adik-adiknya. Lais, begitu panggilannya, rela tidak melanjutkan sekolahnya. Ia mengorbankan seluruh tenaganya hanya untuk membantu Mamak di ladang demi mencukupi kebutuhan keluarga, terutama untuk biaya sekolah adik-adiknya. Lais berharap adik-adiknya akan tumbuh dalam pendidikan tinggi dan lebih sukses dibandingkan orang-orang di lingkungannya yang tidak mengenal bangku sekolah.

Harapan Lais dan Mamak itu terwujud sudah. Satu persatu adiknya telah menyelesaikan perguruan tinggi, bahkan adik tertuanya, Dalimunte, menjadi seorang ilmuwan yang terkenal di dunia IPTEK. Begitu pula dengan ketiga adik-adiknya yang sukses di bidangnya masing-masing. Kesuksesan itu tidak jauh karena Lais selalu mengajarkan adik-adiknya untuk bekerja keras, ikhlas dalam kesederhanaan, dan selalu bertakwa pada Tuhan.

Sayang, kesuksesan adik-adiknya dalam pendidikan maupun keluarga tidak diikuti olehnya. Di usia Lais yang menginjak kepala 40 tahun, ia belum juga menikah. Berbagai usaha telah dicoba Dalimunte dalam mencarikan jodoh untuk kakaknya yang telah berkorban bagi adik-adiknya. Namun sayang, tidak satu pun yang berhasil karena keterbatasan fisik Lais yang berbeda dengan saudara-saudaranya.

Namun demikian, Lais selalu berprasangka baik pada takdir Tuhan. Ia selalu menerima semua keadaan yang terjadi padanya. Ia justru bersyukur dapat melihat adik-adiknya hidup sukses dan bahagia. Lais tetap sendiri melawan penyakitnya, tetap tersenyum hingga ajal menjemputnya untuk menjadi bidadari surga.

E.     Nilai Kearifan Tokoh Utama dalam Novel BBS

Kehidupan sederhana yang dilakoni Laisa membuatnya hidup bekerja keras untuk mencukupi kehidupannya. Belum lagi untuk biaya pendidikan keempat adiknya hingga ke perguruan tinggi. Sebagai anak tertua, ia merasa bertanggung jawab membantu Mamak untuk membimbing adik-adiknya. Beruntung Laisa memiliki sifat yang rendah hati dalam menghadapi kenakalan adik-adiknya dan juga anggapan orang lain tentang dirinya. Adapun data selengkapnya sebagai berikut.

1.   Pekerja Keras

Laisa digambarkan sebagai tokoh yang pekerja keras. Membantu Mamak di ladang dilakukannya sedari Babak meninggal, saat ia berusia sebelas tahun. Saat itulah ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan hanya ingin membantu Mamak:

Laisa tidak pernah menyesali keputusannya. Tidak mengeluh. Ia melakukannya dengan tulus. Sepanjang hari terpanggang terik matahari di ladang. Bangun jam empat membantu memasak gula aren. Menganyam rotan hingga larut malam. Tidak henti, sepanjang tahun (BBS: 161).

Hingga ia dewasa, Laisa tetap membantu Mamak tanpa mengeluh sedikitpun, seperti pada kutipan sebagai berikut:

Umurnya sekarang empat puluh tiga. Tapi ia masih sama disiplinnya, terus bekerja keras mengurus kebun, mengurus Mamak, mengurus pabrik pengalengan, mengurus sekolah di lembah, mengurus apa saja (BBS:151).

2.      Tanggung Jawab

Laisa begitu memperhatikan adik-adiknya. Ia merasa harus selalu melindungi mereka seberapa pun nakal adik-adiknya. Karena rasa tanggung jawabnya itu, ia dihormati oleh adik-adiknya hingga mereka dewasa. Rasa tanggung jawab tersebut tampak pada saat Laisa menyelamatkan Ikanuri dan Wibisana dari lingkaran tiga ekor harimau yang telah mengepung mereka:

Siapa pula yang tidak akan jerih melihat tiga ekor harimau dari jarak dua meter tanpa penghalang? Tapi perasaan itu, perasaan melindungi adik-adiknya membuat Laisa menyeruak, nekad masuk ke arena kematian (BBS: 131).

3.            Mementingkan Kepentingan Orang Lain

Rasa tanggung jawab Lais kepada adiknya di atas memunculkan nilai mementingkan kepentingan orang lain. Ia tidak akan membuat adiknya menunggu lama, tidak mengngkari janji-janjinya. Ia bahkan mengorbankan dirinya putus sekolah demi adik-adiknya. Pengorbanan lain ditunjukkannya ketika ia melawan hujan demi mengobati adiknya yang sakit:

Kak Laisa berlari sekuat kakinya ke kampong atas. Tidak peduli tetes air hujan bagai kerikil batu yang ditembakkan dari atas. Tidak peduli tubuhnya basah kuyup. Tidak peduli malam yang gelap gulita. Dingin membungkus hingga ujung kaki. Terpeleset. Tidak peduli. Petir menyalak. Ia ingat kakak-kakak mahasiswa tadi menyebut-nyebut soal obat dan dokter. Mereka pasti bisa membantu (BBS: 168).

4.      Lapang Dada

Sifat lapang dada ini berkali-kali ditunjukkan tokoh utama pada orang lain. Begitu lapang dada Laisa menerima segala olok-olok orang lain tentang dirinya yang secara fisik berbeda dengan adik-adiknya dan orang lain di kampungnya. Pun saat usianya yang matang ia belum juga menikah. Kesabarannya diuji pula ketika kawan-kawan Dalimunte menolak untuk menikahi Laisa saat mereka menyadari keterbatasan fisik Laisa. Hal ini tampak pada saat percakapannya dengan Dalimunte:

“Apakah Kak Laisa kecewa? Dalimunte tertunduk.
“Mungkin tidak,” Laisa menjawab pelan, menggeleng, “Kakak sudah terbiasa, Dali… Esok lusa, kesibukan dan waktu akan membuatnya terlupakan. Mungkin yang kali ini butuh waktu cukup lama. Membersihkan harapan-harapan yang terlanjur datang.” (BBS: 266)

5.      Pemaaf

Laisa selalu menjaga kerukunan terhadap adik-adiknya. Ia selalu dapat memahami tindak tanduk adik-adiknya. Selalu dapat memaafkan kesalahan mereka. Tidak pernah sekalipun mengungkit-ungkit kesalahan adiknya. Sikap pemaafnya berkali-kali ditunjukkan mulai dari Dalimunte yang bolos sekolah, dan saat Ikanuri-Wibisana bilang bahwa Laisa bukan kakak mereka,

“Kakak selalu memaafkan kalian…. Ya Allah, meski dunia bersaksi untuk menyangkalnya, meski seluruh dunia bersumpah membantahnya, tapi mereka, mereka selalu menjadi adik-adik yang baik bagi Laisa…. Adik-adik yang membanggakan….”Kak Laisa ikut menangis (BBS: 314).

6.      Berpikiran Positif

Laisa termasuk ke dalam orang yang selalu berpikiran positif. Keikhlasannya menerima takdir dari Tuhan membawanya berpikir untuk selalu bersyukur pada nikmat-Nya dan optimis bahwa kehidupan di depan akan lebih baik. Hal itu tampak pada kutipan sebagai berikut:

“Ikanuri, Wibisana, suatu saat nanti kalian akan melihat betapa hebatnya kehidupan ini…. Betapa indahnya kehidupan di luar sana. Kalian akan memiliki kesempatan itu, yakinlah… Kakak berjanji akan melakukan apapun demi membuat semua itu terwujud…” (BBS: 138).

7.      Taat Beragama

Agama merupkan salah satu sumber nilai yang mengajarkan kebaikan bagi penganutnya. Tokoh dalam BBS digambarkan sebagai tokoh yang taat beragama. Meskipun dalam keadaan sakit dan lemah, Laisa tetap menjalankan salat dengan khusyu. Hal ini seperti dalam kutipan di bawah ini:

Tetapi mereka benar-benar terkejut, saat beranjak ke kamar perawatan Wak Laisa ternyata shalat sambil duduk. Bersandarkan bantal-bantal. Wajah itu pucat, terlihat lemah, dan sedikit gemetar, tapi matanya. Matanya terlihat begitu damai. Wak Laisa shalat shubuh sambil duduk (BBS: 239).

8.      Mencintai Alam Sekitar

Hidup di lembah Gunung Kendeng, membuat masyarakat sekitar tidak lepas dari ekosistem sekitarnya. Mereka bersahabat dengan alam, menjaga kelestariannya dan menghargai apa yang ada di dalamnya. Laisa belajar dari alam tentang bagaimana menanam stroberi, dan memahami tingkah laku hewan. Ia terlatih sekali membaca jam dari gerakan matahari dan bayangan pepohonan.

D. Kesimpulan

Di dalam karya sastra, pengarang mencoba menyelipkan aspek-aspek kehidupan yang ada dalam masyarakat. Di dalamnya, diungkapkan gejala sosial masyarakat dimana karya itu tercipta dalam sastra akan terkandung nilai moral, politik, pendidikan, dan agama dalam sebuah masyarakat. Nilai mengacu pada hal-hal yang dianggap baik pada pandangan masyarakat.

Dalam novel BBS karya Tere-Liye tersirat sebuah nilai-nilai kearifan yang dimunculkan lewat tokoh utamanya, Laisa. Sikap dan tingkah lakunya dapat dipahami dengan pendekatan sosiologi sastra, khususnya menyangkut tentang nilai kehidupan masyarakat. Penggambaran tokoh Laisa diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat tentang artinya sebuah pengorbanan dan kerja keras untuk mencapai cita-cita hidup yang lebih baik. Hal ini menjawab permasalahan kondisi masyarakat saat ini yang cenderung bersikap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang diinginkannya tanpa bekerja keras.

Daftar Pustaka

Azis, Siti Aida. http://kajiansastra.blogspot.com/2009/04/sosiologi-sastra-sebagai-pendekatan.html  diunduh tanggal 3 Januari 2012.

Ekoriyono, Adi. 2005. The Spirit of Pluralism: Menggali Nilai-nilai Kehidupan, Mencapai Kearifan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Herdinawati, Ika dan Imam Rifki A. 2011. Makalah Teori Sastra: Teori, Pendekatan dan Metode Sosiologi Sastra. Yogyakarta.

Noor, Rusdian M. 2004. Wacana Akademika Vol. II No.5 Januari 2004. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa.

______________. 2004. Wacana Akademika Vol. II No. 6 Juni 2004. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa.

Setiadi, Elly M., H. Kama Abdul Hakam, Ridwan Effendi. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana Prenada Group

Sumaryono. http://www.sastrajawa.com/dongeng-dan-refleksi-sosio-culture-masyarakat-tinjauan-relevansi-nilai-moral-dongeng-dengan-kehidupan-masa-kini tgl 21 juni 2012

Sutri. 2009. Skripsi: Dimensi Sosial dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata: Tinjauan Sosiologi Sastra. FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.

http://karodalnet.blogspot.com/2011/10/pengertian-kearifan-lokal.html 21 juni 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s