Analisis dan Kajian Drama

NASKAH DRAMA “ROH” 

KARYA WISRAN HADI : TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA

Oleh :Ika Herdinawati

I.   PENDAHULUAN

1.1  Latar Pemilihan Naskah Drama

Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi via internet).

Naskah drama yang akan dianalisis berjudul Roh buah karya Wisran Hadi. Naskah drama tersebut diambil dari buku Kumpulan Drama Sobrat yang diterbitkan oleh Grasindo Jakarta. Roh merupakan pemenang Juara Harapan II sayembara naskah yang dilaksanakan oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2004.

Dari beberapa naskah yang terdapat dalam buku tersebut, Roh merupakan satu-satunya naskah drama yang memuat nilai budaya, khususnya budaya mistis tentang pemanggilan arwah melalui perantara. Dilihat dari tema tersebut, naskah ini menarik untuk diteliti karena  pada jaman globalisasi ini, di beberapa daerah di Indonesia masih ada upacara pemanggilan roh leluhur untuk pengobatan maupun meminta berkah. Namun, makalah ini bukan menyajikan analisis sosiologi pada teks sastra, melainkan dititikberatkan kepada psikologi tokoh utama menggunakan kajian psikologi sastra.

1.2  Sinopsis Drama

Ibu Suri, separuh baya dan seorang kaya, memilih menyelesaikan masalahnya dengan cara mengikuti tradisi pemanggilan arwah nenek moyang. Ia yakin akan menemukan Suri lewat pengetahuan roh nenek moyang tentang keberadaan Suri.

Dalam upacara pemanggilan tersebut, Ibu Suri menggunakan jasa Manda, seorang perantara yang tubuhnya akan dimasuki roh yang dipanggil.

Secara bergantian roh-roh itu datang, dan Ibu Suri pun terus bertanya perihal Suri. Namun Ibu Suri tidak puas atas keterangan para roh itu tentang suri. Jawaban para roh tidak memberikan kepastian akan keberadaan Suri. Apalagi Manda menyangsikan keberadaan suri. Ibu Suri harus bertindak dan memastikan suri hingga dapat meyakinkan dirinya.

Ibu Suri marah karena para roh yang diundang Manda adalah roh para bandit dan penipu, bukan roh nenek moyang. Karena tidak percaya lagi kepada Manda, Ibu Suri sendiri yang melakukan pemanggilan roh tersebut. Dia akan mengundang roh yang jujur dan arwah nenek moyang yang budiman.

Walaupun melakukan dengan tangannya sendiri, tetapi Ibu Suri tetap gagal dalam mencari informasi keadaan Suri. Ibu Suri malah menganggap kuburan yang ada di depannya adalah kuburan suri. Manda menjelaskan bahwa kuburan itu bukan kuburan Suri, tetapi Ibu Suri bersikeras pada pendiriannya. Bahkan menyuruh para roh untuk menggali kuburan tersebut. Tiba-tiba Ibu Suri tersentak kaget, karena wajah jasad yang terbungkus kain kapan itu adalah wajah yang sangat dikenalnya yaitu wajah Manda.

1.3  Pengarang Naskah Drama

Wisran Hadi dikenal sebagai seorang sastrawan atau budayawan Indonesia Lahir dan dibesarkan di ranah Minang, Sumatera Barat sehingga dalam beberapa naskah drama yang ditulisnya banyak memasukkan nilai budaya asalnya. Roh selesai ditulis oleh Wisran Hadi di Kualalumpur, pada Desember 2001. Tahun 1991 dan tahun 2000 beliau sempat mendapat penghargaan sebagai Sastrawan Terbaik Indonesia oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

1.4  Kajian Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks berupa drama maupun prosa.

Beberapa kemungkinan kajian psikologi sastra diantaranya ialah pendekatan tekstual yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Pengkajian aspek tekstual semula memang tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip Freud tentang psikologi dalam. Kajian psikoanalisanya mengemukakan bahwa kesadaran merupakan sebagian kecil dari kehidupan mental sedangkan bagian besarnya adalah ketaksadaran atau tak sadar.

Dalam kajian psikologi sastra, akan berusaha mengungkap psikoanalisa kepribadian yang dipandang meliputi tiga unsur kejiwaan, yaitu id, ego dan super ego. Ketiga sistem tersebut saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk integrasi ketiganya.

Id adalah aspek kepribadian yang ‘gelap’ dalam bawah sadar manusia yang berisi insting dan nafsu-nafsu tak kenal nilai dan agaknya berupa ‘energi buta’. Ego adalah kepribadian implementatif, yaitu berupa kontak dengan dunia luar. Ego merupakan bagian ambang sadar dan kesadaran. Antara sistem tak sadar (id) dengan sistem sadar (ego) ada satu bagian yang memegang pernan penting yaitu sensor yang dinamakan super ego  yang mengontrol dorongan-dorongan ‘buta’ id tersebut. Super ego berisi nilai-nilai atau aturan yang bersifat evaluative menyangkut baik dan buruk.

II.  PEMBAHASAN

2.1  Tokoh Ibu Suri dalam Pandangan Psikologi Freud

Ibu Suri sebenarnya hanyalah panggilan. Dia bukan ibu dari seorang raja atau istri dari raja, maupun bangsawan manapun. Ibu Suri, seorang perempuan yang berstatus sebagai ibu yang menganggap dirinya ibu dari Suri. Sedangkan siapa Suri itu sendiri, dia pun sulit untuk menjelaskan apa, siapa dan bagaimana. Besar keinginan Ibu Suri untuk menemukan di mana dan bagaimana keadaan Suri. Sehingga ia meminta Manda, perantara arwah, untuk memanggil roh nenek moyang agar dapat menemukan jawaban tentang Suri.

Dalam naskah drama ini digambarkan bagaimana pertentangan antara id, ego dengan super ego. Pertentangan tersebut lebih mengarah pada pertentangan tradisi dan agama. Keinginan Ibu Suri yang meluap-luap untuk mencari tahu keberadaan Suri merupakan bentuk id. Ke manapun telah ia lakukan untuk mengetahui tentang Suri, namun tidak ada yang mengetahuinya.

Ibu Suri kemudian menggunakan tradisi pemanggilan roh-roh atau arwah nenek moyang untuk bertanya kepada mereka tentang Suri. Itulah ego, kesadaran melakukan apa yang diinginkannya. Meskipun dalam agamanya (sebagai super ego) hal itu tidak diperbolehkan karena hukumnya syirik dan padanya akan diancam neraka jahanam. Namun Ibu Suri yang keras kepala tetap melakukannya. Keras kepalanya tertuang dalam dialog sebagai berikut:

Ibu Suri : Ternyata roh yang Manda undang

                  Bukan roh para tokoh atau arwah nenek moyang

                  Tapi, roh para bandit dan penipu

                  Suri dikaburkannya, Suri disangsikannya

                  Aku harus meretas jalan pintas untuk melakukan terobosan

                  Aku akan bicara langsung tanpa perantara dusta atau medium mesum!

                  Pergi kau! Pergi!

                  Aku akan memanggil roh-roh yang jujur

                  Dan, arwah nenek moyang yang budiman!

Manda : Ibu Suri termasuk orang beriman, jangan berteman dengan setan. Syirik hukumnya, syirik.

Ibu Suri : Syirik atau syarak

                 Dosa atau dasi, desa atau dasa

                 Manda peduli apa! Suri pasti ada

                Suri tidak boleh disangsikan!

                Ayo Manda. Pergi

                Aku akan meletakkan sesajian

               Bagi roh dan arwah yang akan diundang.

              (MEMBUKA BUNGKUSAN MANDA YANG TADI DIRAMPASNYA. PIRING-PIRING    DAN BUNGA-BUNGA DIJEJERKAN DI LANTAI)

Di sinilah pertentangan ego dengan super ego terjadi. Dalam hal ini, super ego dikalahkan keinginan si tokoh sehingga dengan keadan yang terdesak, super ego muncul dalam bentuk lain. Bentuk yang dimaksud yakni melakukan perbuatan keliru yang bertentangan dengan super ego, yaitu melakukan pemanggilan roh nenek moyang.

Ibu Suri kemudian tidak menganggap apa yang dilakukannya sebagai tindakan yang benar atau tidak, logis atau tidak, karena Ibu Suri terdesak oleh tradisi pemanggilan arwah nenek moyang walaupun sudah hidup di jaman modern seperti sekarang ini. Berarti, Ibu Suri tetap punya kecenderungan tradisi walaupun bertentangan dengan agama, logika, dan perkembangan jaman.

Kondisi pertentangan super ego tersebut juga disebabkan oleh Ibu Suri tidak lagi percaya akan orang lain, seperti pemangku adat ataupun guru agamanya yang dapat mengetahui jawaban atas di mana Suri berada. Ketidakpercayaan tersebut terlihat pada kutipan dialog di bawah ini:

Ibu Suri : Guru agamaku tak mampu menerangkan, di mana Suri

                  Penghulu adatku tak dapat menjelaskan ke mana Suri

                  Mesin hitungku tak kunjung mengura, sansai kah Suri.

                  Manda. Ke mana lagi aku harus bertanya

                  Berita Koran tak lagi meyakinkan

                  Siaran televisi sulit diyakini

                  Iklan majalah susah dipercaya.

III.   SIMPULAN

Naskah drama Roh karya Wisran Hadi menyajikan suatu bentuk di mana adanya pertentangan antara tradisi dengan norma agama. Pemanggilan arwah nenek moyang di Minangkabau merupakan tradisi yang mengakar. Tradisi ini biasanya dilakukan untuk pengobatan. Namun dalam sisi agama, tradisi ini bertentangan karena merupakan sifat syirik, tidak percaya dengan Tuhan dan hukumannya adalah neraka jahanam.

Dalam naskah drama ini ditampilkan bagaimana tokoh Ibu Suri mendobrak norma agama (super ego) dengan tetap melakukan ritual pemanggilan arwah nenek moyang untuk mengetahui keberadaan Suri. Namun pencariannya sia-sia karena perantara yang ia sewa untuk memanggil arwah adalah seorang yang juga telah mati dan menjadi roh. Ia merasa tertipu.

Demikian psikologi dalam pandangan Freud termanifestasi dalam id, ego, dan super ego. Dalam naskah ini juga tersaji bagaimana super ego sebagai sensor nilai baik atau buruk sebuah aturan yang harusnya menjadi pengontrol tindakan manusia diabaikan. Super ego tersebut menerobos dalam bentuk lain, bentuk yang dirasa keliru dan di luar aturan yang seharusnya.

 

Daftar Pustaka

            Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Medpress.

Hadi, Wisran. 2005. 5 Naskah Drama (Pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta). Jakarta: Grasindo.

Noor, Rusdian M. 2004. Wacana Akademika Vol. II No. 6 Juni 2004. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa.

Suroso, Puji Santosa dan Pardi Suratno. 2008. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera Publishing.

http://riksabahasa.blogspot.com/2012/02/sinopsis-drama-roh-karya-wisran-hadi.html

http://wujudkanlahmimpimu.blogspot.com/2010/09/analisis-mimesis-naskah-drama-roh-karya.html                                           

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s