Pembentukan Karakter Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Bangsa yang maju tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih, atau kekayaan alamnya, tetapi yang terutama adalah dorongan semangat dan karakternya. Di Indonesia akhir-akhir ini dijumpai fenomena sosial, antara lain penyimpangan yang dilakukan pelajar seperti seks bebas, tawuran, maupun ditemukannya beberapa video porno. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan masyarakat mengenai kegagalan pendidikan. Pendidikan selama ini lebih cenderung memberikan porsi yang berlebih pada penanaman aspek-aspek kompetensi hard skills dan kurang memberi porsi yang layak pada penanaman soft skills.

Salah satu untuk meminimalkan berbagai masalah di atas adalah dengan membenahi karakter anak bangsa. Jika masyarakat memiliki karakter yang kuat, maka berbagai tindakan amoral dapat dihindari. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan pendidikan karakter di dalam keluarga, masyarakat dan di sekolah pada khususnya. Salah satu cara untuk membentuk siswa berkarakter di lingkungan sekolah yakni melalui pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

1.Pengertian Pendidikan Karakter
Secara garis besar, karakter diartikan sebagai sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang dari sejak lahir, yang membedakan seseorang dengan yang lainnya.
Secara harfiah, pendidikan berasal dari kata ‘didik’, yaitu berarti ‘memelihara dan memberi latihan’. Selanjutnya pendidikan didefinisikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007: 263).
Demikian pengertian pendidikan karakter dapat diartikan usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berkeutamaan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, sehat, mandiri, kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab.
Guru sebagai pelaku dalam proses pendidikan di sekolah memegang peranan penting untuk menumbuhkan karakter peserta didik. Sehingga guru dituntut untuk terus melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam mendidik dan membangun karakter peserta didiknya. Untuk meningkatkan kualitas pendidik dalam membangun karakter dapat dilakukan dengan peningkatan keteladanan dan pembiasaan disiplin pendidik, serta suasana belajar yang kondusif.

a.Keteladanan
M. Furqan Hidayatullah menuliskan bahwa keteladanan dalam pendidikan merupakan pendekatan atau metode yang sangat berpengaruh dan terbukti paling bberhasil dalam mempersiapkan, membentuik, dan mengembangkan potensi peserta didik. Sebagai contoh jika guru memiliki kebiasaan membaca, biasanya akan memberikan inspirasi kepada muridnya untuk ikut membaca. Demikian juga untuk hal-hal baik lain yang diteladankan guru kepada murid akan ikut memberikan inspirasi untuk melakukan sesuatu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa keteladanan member kontribusi besar dalam mendidik karakter.
b.Pembiasaan disiplin
Kedisiiplinan pada hakikatnya adalah kebiasaan dan kesadaran untuk melakukan sesuatu hal sesuai aturan yang berlaku dalam lingkungan tertentu.
c.Suasana belajar yang kondusif
Semua guru harus memiliki sikap peduli dalam mendidik karakter anak. Oleh karena itu guru harus memiliki sikap proaktif dalam mendidik karakter siswanya. Selain faktor keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat juga berperan penting dalam pembentukan karakter. Lingkungan masyarakat yang beriklim belajar, akan membuat anak termotivasi untuk mengikuti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, begitu juga sebaliknya.

2.Peran Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Praktik pendidikan karakter dapat diimplementasikan jika tersedia kurikulum yang berwawasan karakter. Hal ini sesuai dengan tujuan umum pembelajaran bahasa Indonesia adalah mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki intelektual dan psikomotor mengenai dasar-dasar berbahasa. Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, Herman J. Waluyo mengutip Moody dalam bukunya The Teaching of Literature. Ada empat hal yang dapat diperoleh dari belajar sastra, yaitu (1) untuk memupuk keterampilan berbahasa; (2) untuk melatih kepekaan dan keiindahan; (3) untuk mampu menghayati tema-tema kemanusiaan, moral, budi pekerti yang luhur (atau dengan kata lain kemampuan membedakan baik buruk); (4) untuk memahami watak sesama manusia, perbedaan antara yang satu dengan yang lain sehingga melatih solidaritas; dan (5) untuk melatih kepekaan sosial dalam arti memahami penderitaan lain.
Muatan nilai-nilai yang tersirat dari karya sastra pada umumnya adalah nilai-nilai religious, nilai moral, nilai sosial, dan nilai etika, serta nilai estetika. Dalam konteks pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, guru dapat menanamkan nilai-nilai tersebut melalui apresiasi karya sastra. Dalam proses pembelajaran guru harus menyampaikan hal tersebut agar siswa dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk.

3.Peran Mahasiswa dalam membentuk Kepribadian Bangsa
Mahasiswa merupakan salah satu generasi penerus generasi bangsa. Mahasiswa dapat dikatakan sebagai pembentuk karakter atau kepribadian bangsa. Jati diri bangsa Indonesia telah lama terbentuk melalui organisasi pemuda pertama yaitu Boedi Oetomo dan berujung tombak pada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Oleh karena mahasiswa merupakan kalangan, intelektual yang dibekali dengan pemikiran-pemikiran tinggi, peranan mahasiswa sangatlah dibutuhkan agar kepribadian bangsa kita semakin kokoh. Peranan penting mahasiswa itu harus dilandasi pemikiran dan sikap yang didasari pada nilai-nilai Pancasila. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan mampu menngaplikasikan pemikiran dan sikap apabila sudah terjun di dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu peran yang dapat dilakukan mahasiswa yaitu memperbesar ruang dalam menggunakan referensi atau orientasi yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Mahasiswa perlu memahami akan pentingnya nilai-nilai Pancasila sehingga menghasilkan kualitas intelektual dan penglaman yang baik dalam memecahkan prblematika yang dihadapi dirinya ataupun kondisi yang terjadi dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s